Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Mengelola Insecure (Catatan Webinar Teh Qoonit)

  Insecure lawan dari kata secure yang dapat diartikan sebagai perasaan tidak aman. Perasaan tidak aman itu bisa timbul karena kekhawatiran atas hal-hal yang belum   bisa dipastikan, perasaan rendah diri, tidak berharga, dan perasaan lainya yang disadari atau tidak melemahkan jiwa kita. Faktanya, semua orang pasti pernah mengalami insecure. Karena pada dasarnya kehidupan di dunia ini adalah perpindahan dari satu ujian ke ujian. Nah pertanyaannya, apa rasa insecure itu bisa kita kelola? Sebelum mengetahui jawabannya, alangkah baiknya kita ketahui dulu penyebab seseorang bisa terserang insecure. Penyebab insecure Keluar dari zona nyaman Setiap dari kita pasti merasa betah pada zona nyaman ( comfort zone ). Ketika kita mencoba keluar dari comfort zone , kita akan masuk ke fear-zone . Di fear-zone ini, kita akan menemukan pengalaman baru dan kita belum memiliki pengetahuan tentang itu sebelumnya, di mana perasaan insecure seringkali menghampiri. Setelah berhasil melalui...

Yeay!

Gambar
 Tanggal satu, bulan baru. Akhirnya bisa memeluk buku yang ditunggu-tunggu. Yeaay!!! Ini buku pertama yak! Pecah telur bulan lalu, tapi baru bisa diamankan hari ini. Jenisnya bukan buku solo, tapi antologi cerpen. Tau antologi kan? Iya, kumpulan cerita dari beberapa penulis yang disatukan ke dalam sebuah buku. Nah, siapa aja nih penulisnya? Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah teman-temanku tersayang, sebut saja mereka murni, erni, zuhud, puteri dan syahida. Oh iya, dua orang lagi nggak mau disbutin namanya, jadi pakai nama pena deh, Kataruh Hamasah dan Najma Afsheen. Untuk kalian semua terima kasih telah mau berbagi ruang untuk setiap cerita dan merangkainya bersama❤ Soon, semoga bisa punya buku solo alias satu buku karya sendiri. Aamiin.  *bisikan diri sendiri : jangan malas nulis, yak!  Oh iya, ini penampakan buku pertama ku. 

Janji Pada Diri

 Janji Pada Diri Kesal pada diri sendiri yang begitu mudah mengingkari janji. Berkata akan berubah, tapi terlalu malas untuk berbenah.  Marah pada diri sendiri yang betah berlena-lena pada hal sia-sia. Menunda seakan jadi kebiasaan. Zona nyaman terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Padahal, waktu terus berjalan maju tanpa sudi menolehkan wajah ke belakang. Dalam tawa sumbang penuh rasa kasihan, sang waktu berbisik pelan, 'hai diri yang lalai, lekaslah sadar, atau kau akan habis oleh perputaranku!' Ingin memaki diri yang masih betah berdiam diri padahal orang-orang sudah mulai berlari. Apasih, yang sedang ditunggu? Kesempatan? Ada berapa banyak kesempatan yang dibiarkan lewat begitu saja? Terlalu merendah pada kemampuan diri, padahal Allah menitipkan segala potensi. Iya, potensi terpendam yang tidak pernah digali.  Belum lagi buruk sangka akan masa depan yang melahirkan banyak ketakuan.  Apasih, yang ditakuti? Masa depanmu akan baik-baik saja selagi Allah ada di sana. Iy...

Tiket

 "Gentaaaaa!" Genta pasti tidak menyangka aku bisa tersenyum secerah ini dan meneriakkan namanya senyaring ini. Begitupun denganku yang langsung mengambil langkah lebar-lebar agar bisa sampai lebih cepat ke tempat ia berdiri.  Gedung fakultasku memang selalu ramai pada pergantian jam perkuliahan begini, sangat tidak memungkinkan bagiku untuk berlari menghampirinya tanpa menabrak beberapa orang yang kulewati.  Di sana, tepat di depan palang bertuliskan "Fakultas Ilmu Komunikasi", Genta berdiri sambil membawa serta tiket seminar kepenulisan yang kucari-cari, yang sudah habis terjual sejak hari pertama. Cukup mampu membuatku kesal karena tidak kebagian kursi.  "Kau berhasil mendapatkannya?" Tanyaku, setelah sampai di hadapannya.  "Tentu saja." Tiket itu berpindah tangan, aku menerimanya dengan segenap perasaan bahagia bercampur haru.  "Bagaimana bisa? Bukannnya sudah habis? Kau menyuap panitia, ya?" Aku memberondongnya dengan bermacam pert...

Menyesal Tidak Menulis

Kalau ditanya tentang hobi, jawabanku pasti tidak akan jauh-jauh dari membaca dan menulis. Aku telah menyenangi kedua kegiatan ini sejak masih sekolah dasar. Aku sangat suka membaca majalah anak-anak yang memuat banyak cerita pendek dan cerita bergambar di dalamnya, bahkan aku membelinya hampir setiap bulan. Lalu secara alami timbul keinginan untuk membuat cerita pendekku sendiri. Akhirnya, aku mulai menulis di kelas lima. Dimulai dari menulis diary yang hanya bisa kubaca sendiri, lalu mulai memberanikan diri menulis cerita untuk dibaca teman-temanku.  Bagiku, dulu, membaca dan menulis hanyalah sebuah hobi. Iya, sesuatu yang kusenangi untuk dikerjakan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami. Membaca dan menulis bukanlah kesenangan belaka, tetapi kebutuhan setiap manusia. Dan jangkauannya pun tidak sesempit cerita pendek yang biasa aku baca, tetapi mencakup ilmu pengetahuan seluruhnya. Bahkan, di dalam islam, perintah pertama yang turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasalla...

Kuliah Online Lagi!

Duh, semester depan perkuliahan dilaksanakan secara online lagi! Padahal, aku lebih menyukai perkuliahan tatap muka. Pun beberapa temanku mungkin akan berpendapat sama.  Perkuliahan online kupandang kurang efektif karena selain kita harus mengeluarkan biaya lebih untuk kuota yang tentu diperlukan dalam jumlah tidak sedikit, kita juga dihadapkan oleh masalah pemahaman yang pasti berbeda-beda setiap orang. Kalau kuliah tatap muka saja belum tentu paham, bagaimana dengan nasib kuliah online? Bisa-bisa cuma ngabisin kuota tapi ilmunya nggak dapet. Rugi dua kali, nggak, tuh? Untungnya, permasalahan kuota ini sudah bisa teratasi dengan adanya bantuan kuota sana-sini; ada yang dari kemendikbud, ada yang dari pihak kampus. Oh, jangan lupakan juga kemurahan hati beberapa provider yang mengratiskan beberapa forum belajar. Pokoknya, masalah kuota—asal bisa berhemat dalam menggunakannya—aman!  Nah, jika sudah memiliki sokongan kuota, apakah itu artinya kita bisa mengikuti proses perkuliah...

Manajemen Waktu ala teh Qoonit

Seringkali, kita merasa memiliki banyak sekali pekerjaan atau urusan yang harus diselesaikan sementara waktu yang tersedia untuk kita mengerjakan semua itu sangatlah sedikit. Sebaliknya, adapula yang merasa memiliki banyak sekali waktu luang sampai bingung harus melakukan apa untuk mengisi keluangan waktunya. Ujung-ujungnya, malah gabut sendiri. Kita mungkin bisa membuat jadwal untuk membantu me- manage waktu kita. Namun, jadwal-jadwal yang sudah kita susun sedemikian rupa, sering kali malah tidak terjalankan karena satu dan lain hal. Alhasil, hanya berakhir sebagai pajangan dinding kamar. Mengapa bisa begitu? Jawabannya mungkin karena kurangnya keberkahan waktu. Manajemen waktu tidak hanya berkaitan dengan pengaturan waktu. Ada banyak faktor yang bisa membuat urusan kita lancar, atau justru membuat urusan kita tersendat. Karena itu, kita tidak bisa me- manage waktu seorang diri karena waktu bukan milik kita. Maka, ketika berbicara tentang manajemen waktu, kita juga akan dipertemukan...

Rotasi

Tidak seperti biasanya, wajah Naya tampak begitu muram hari ini. Entah kemana perginya senyum yang biasa terpatri di wajah manisnya itu. Ia tidak bersemangat meski Genta mentraktir cheese burger kesukaannya. Bahkan ketika Genta bertanya, Naya hanya menjawab sekenanya.  "Aku baik-baik saja." Genta tahu betul itu adalah kalimat yang sering digunakan kaum hawa untuk menutupi keadaan mereka yang sebenarnya. Apa Naya pikir Genta se-tidak-peka itu hingga tidak menyadarinya? "Langit hari ini mendung, sama sepertimu. Anginnya dingin, sama juga sepertimu. Adakah cuaca yang sendu ini mempengaruhimu, atau kau yang telah mempengaruhinya, Naya?" Genta menunggu Naya yang masih betah dalam keterdiamannya tanpa berusaha mendesaknya untuk bercerita. Meski Genta sendiri penasaran, ia tetap tidak ingin membuat Naya menjadi merasa tidak nyaman.  "Tidak ada yang mempengaruhi, cuaca memang akan terus berganti. Langit tidak selalu biru, sesekali akan hadir mendung yang merubah warna...

Teman Berjuang

Pada suatu waktu, kau termenung memandangi deretan kertas yang tertempel rapi di salah satu sudut dinding kamarmu. Bukan kertas biasa. Padanya, mimpi-mimpimu kau abadikan dalam goresan tinta berwarna-warni—merah muda, biru dan jingga menjadi pilihan warna kesukaanmu—berikut rencana dan target-terget yang telah kau perhitungkan dalam kadar yang sesuai dengan kemampuanmu. Tidak lupa pula kau sertakan kalimat-kalimat motivasi sebagai penguat langkahmu untuk mencapai mimpi-mimpi yang berharga itu.  Kau berusaha membuatnya secantik mungkin, menghiasnya dengan origami berbentuk hati agar tidak membosankan ketika dipandangi. Belum cukup dengan origami, kau tambahkan lagi stiker berbentuk karakter-karakter lucu yang kau sukai.  Sudut kamarmu yang hampa berubah penuh warna. Kau senang memandanginya dan kau bersemangat untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahmu yang terukir disana. Tapi, sesuatu dalam dirimu kemudian mengkhianatimu tanpa kau duga-duga; kemalasan itu datang tanpa aba-aba....

Tulisan Sampah

Suatu kali, Genta pernah bertanya kepadaku. "Selain aku, ada kah lagi orang yang kau percaya untuk membaca tulisanmu, Naya?" Aku mencoba mengingat-ingat kepada siapa saja pernah ku tunjukkan tulisan-tulisanku. Tentu Genta bukan satu-satunya orang yang menjadi 'kepercayaanku'. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sejauh ini, dialah yang paling lama bertahan menyandang predikat itu. "Ada. Dulu, aku selalu meminta teman-temanku untuk membacanya. Dan setelahnya mereka akan menghujaniku dengan banyak pujian." Aku masih mengingatnya, ternyata. Tulisan-tulisan sampah yang dulu ku pamerkan dengan penuh rasa percaya diri untuk dibaca oleh teman-temanku. Tidak peduli seberapapun jeleknya, mereka akan tetap menyanjungnya dengan kalimat-kalimat yang membuaiku hingga ke langit. Tapi, semakin lama, aku semakin muak mendengarnya. "Kenapa? Kau tidak suka dipuji?" "Kurasa di dunia ini tidak ada yang tidak suka dipuji.  Itu manusiawi, kan? Tapi, ada saat ketika kau ...

Pelabuhan Hati

Aku benci melihat perempuan menangis. Terlebih perempuan itu adalah Dhira, sahabatku. Terlebih lagi, alasannya menangis adalah karena seorang laki-laki. Walaupun aku juga laki-laki, tapi aku sungguh mengutuk perbuatan tidak terpuji semacam ini. Untuk apa susah-susah ku buat Dhira tertawa, kalau laki-laki lain dengan mudahnya membuat Dhira menangis? Cuih!  "Lupakan dia. Apa susahnya?" "Kau tidak mengerti, Angga!" Hujan di pelupuk matanya mulai mereda ketika aku mencoba mengajaknya berbicara. Dia benar. Walau kami sudah berteman sejak masih bocah ingusan, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa mengerti dirinya sepenuhnya. Ralat, lebih tepatnya perasaannya.  Dulu, ketika masih bocah, Dhira jarang menangis. Ia bahkan tidak menangis meski terjatuh saat memanjat pohon jambu bersamaku. Padahal lututnya mengucurkan cairan merah yang pasti sakit saat dirasa. Tapi, Dhira bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Malahan, aku yang saat itu menangis dimarahi ibunya...

Bukan Tulisan Biasa

Sebelumnya, kupikir menulis itu adalah pekerjaan otak. Memilih diksi, merangkai kalimat, menghubungkan setiap paragraf, menyelaraskan urutan setiap kejadian hingga menjadi satu kesatuan yang bermakna, bukankah semua itu perlu proses yang diatur dalam alam pikir? Kalaupun ada hal lain yang ikut berperan, kurasa jawabannya adalah perasaan. Kita pasti pernah membaca sebuah tulisan yang tidak hanya mengagumkan secara pemikiran, tapi juga menyentuh hingga ke perasaan. Tidak selalu menggunakan diksi yang puitis, hanya kata-kata sederhana yang diramu dengan cara yang luar biasa. Alurnya mungkin klise , tapi diceritakan dengan apiknya dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah tulisan yang kiranya mampu menggerakan pembaca untuk melakukan nilai-nilai kebaikan yang disematkan di dalamnya. Perpaduan yang manis dari hasil olah pikiran dan perasaan, keduanya bisa disalurkan lewat tulisan. Namun, mengandalkan kedua hal itu saja ternyata tidaklah cukup. Perkara menulis ternyata lebih luas dari itu. Tid...

Maharah dan Anashir al-Lughoh

Dalam pembelajaran bahasa Arab, terdapat dua istilah penting yang wajib kita ketahui, yaitu Maharah al-Lughoh dan Anashir al-Lughoh. Kedua isitilah ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman karena dianggap sebagai satu kesatuan. Padahal keduanya memiliki esensi yang berbeda.  Apa yang membuat keduanya berbeda? Kita bahasa secara singkat dan sederhana, ya. Pertama, Maharah al-Lughah , artinya kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa ini mencakup empat kemahiran yang harus dikuasai ketika seseorang belajar bahasa, yaitu mendengar ( istima '), berbicara ( kalam ), membaca ( qira'ah ), dan menulis ( kitabah ).  Dr. Halimi Zuhdy, selaku ketua jurusan Sastra dan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim, mengatakan bahwa kemahiran berbahasa bukanlah sebuah ilmu, sehingga untuk memperolehnya tidak perlu "sekolah". Beliau menceritakan pengalaman bertemu dengan pedagang-pedagang yang berjualan di sekitar Kampung Ingris, Pare. Apa yang membuat beliau kagum adalah mereka sangat pa...

Warnamu

Genta membalik tiap halaman yang sudah selesai ia baca dengan tenang. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan secara teratur mengikuti barisan huruf yang berjajar rapi membentuk satu kesatuan tulisan. Tulisanku.  Aku diam memandanginya, menunggunya selesai membaca. Sesekali ku hisap miltie buble-ku yang cup nya telah basah oleh butiran-butiran air hasil pencairan es. Cuaca yang hujan di luar sana tidak sama sekali menghalangiku untuk memesan minuman favoritku ini. Berbeda dengan Genta yang—biasanya memesan miltie buble bersamaku—kali ini memesan segelas cappuchino hangat. Permukaan gelasnya menampilkan uap-uap tipis yang terangkat naik lalu bergerak menyebar secara acak. Aku khawatir minumannya keburu dingin sebelum sempat ia habiskan. "Hhh..." Helaan nafasnya terdengar. Bersamaan dengan tangannya yang menutup buku bersampul cokelat tua—yang sejak tadi menjadi fokus utamanya—dan menggesernya di atas meja, ke arah ku. Di bagian depan buku tersebut tertulis namaku, Kanaya Nabi...

Belajar dari 'Guru Aini'

Gambar
Warning❗❗❗ Mengandung  banyak spoiler Pernah merasa kesulitan dalam sebuah pelajaran? Saking kesulitannya sampai mengalami gemetar, mual atau sakit perut yang datang tiba-tiba dan hilang ketika pelajaran tersebut telah berlalu? Jika iya, mungkin anda sedang mengalami seperti apa yang dirasakan oleh Aini. Setiap kali jam pelajaran matematika tiba, perutnya akan mulas seketika. Sepanjang pelajaran, ia berjuang menghadapi sakit perut yang anehnya akan lenyap dengan sendirinya begitu pelajaran tersebut berakhir. Pelajaran usai, Aini kembali segar bugar. Bagi Aini, matematika dibawa oleh semacam makhluk asing bertopeng hantu untuk menyengsarakan anak-anak. Sebegitu menakutkannya matematika sampai Aini merasa digentayangi pelajaran hitung-hitungan tersebut bahkan sejak masih berstatus sebagai murid SD dan kengeriannya itu tak kunjung sirna hingga ia menjejak bangku SMA. Tak peduli siapapun pengajarnya, Aini merasa ia tidak akan pernah bisa berdamai dengan matematika. Terbukti dengan kons...

"Tapi kan, aku bukan lulusan pondok pesantren..."

Gambar
Tidak terasa sudah berada dipenghujung semester empat. Padahal, rasanya baru kemarin memperkenalkan diri di kelas untuk pertama kali, menjawab pertanyaan tentang alasan kenapa memilih masuk jurusan ini, lalu diwanti-wanti untuk bertahan apapu rintangan yang menanti. Bahkan, masih hangat di ingatan perihal 'Cinta Palsu' yang terdengar ringan namun ternyata berat ketika dimaknai. Sebuah peringatan sunyi untuk berhati-hati. Berhati-hati dari apa? Awalnya memang tidak terlalu mengerti. Tapi seiring waktu jawabannya bisa ditemukan sendiri. Tidak terasa semester lima sudah di depan mata. Ah, semester tadi saja rasanya sudah berat sekali, lalu bagaimana nasib semester depan nanti? Hmm, tidak tahu. Tapi, semakin tidak ingin dipikirkan malah semakin kepikiran. Sebentar lagi akan memasuki semester tua, tapi kemampuan masih begini-begini saja. Apa kata dunia??? Dulu, ada sebuah kalimat yang sering di—salah—gunakan untuk membela diri. "Aku kan bukan lulusan pondok pesantren..." B...

Bintang Utara

Kita adalah pengembara. Dunia ini, katamu, hanyalah kabut yang terlihat terang. Laut yang luas seringkali membuat kita tersesat, gelombangnya pasang surut mempermainkan perahu kecil kita. Di atas sana, Langit selalu diam dan tenang tapi tidak pernah luput memerhatikan. Ia menangkap setiap kegelisahan yang kita rasakan. Maka, dititipkannya cahaya pada Bintang Utara sebagai penuntun jalan kita untuk pulang. Lewat binarnya yang mengagumkan, ia ingin kita tahu bahwa selalu ada harapan untuk setiap yakin yang tertanam. Badai mungkin sesekali mampir mengundang ketakutan, merapuhkan harapan. Tapi setidaknya, kita sudah tahu kemana harus menuju. Maka, bertahanlah sebentar lagi. Perjalanan panjang ini akan berhasil kita lalui.  06/08/19

Pentol Kuah

"Keluar, yuk! Orang-orang pada malam mingguan, masa kita rebahan di kos doang?" Tata melempar pandangannya pada Oliv yang sedang sibuk berkutat dengan laptop dan tumpukan kertas laporan berisi nama-nama ilmiah dari berbagai macam tumbuhan yang susah untuk dilafalkan. Pemandangan—membosankan—yang hampir setiap malam Tata saksikan dari teman sekamarnya. "Kamu doang kali, Ta, yang rebahan. Aku mah enggak," Sahut Oliv. Matanya masih fokus menatapi layar laptop sambil sesekali mengetikkan sesuatu di atas papan keyboard. Beberapa kali kacamatanya melorot, terakhir ia biarkan menyangkut di ujung hidung. "Aku rebahan gini doang aja capek, Liv. Gimana kamu yang tiap malam ngurusin laporan praktikum mulu? Bawa refreshing dulu nggak papa, kali. Mumpung besok libur juga," Ucap Tata. Sedari tadi kerjaannya hanya rebahan sambil menggeser-geser insta-story orang lain yang sebagian besar menampilkan keseruan suasana malam mingguan. Hhhh, bikin iri kaum rebahan saja! ...

Merayakan Perpisahan

"Kita sudahi saja, ya." Perempuan itu berkata pelan, seakan tidak yakin pada perkataannya sendiri. Ia menunduk dalam, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata meneduhkan milik seorang laki-laki dihadapannya. Jari-jari tangannya bertaut, saling meremas cemas dari balik meja kayu yang menjadi pembentang jarak diantara mereka. Hening. Malam semakin larut, dua cangkir cokelat panas yang mereka pesan sudah mendingin diterpa angin malam sebelum sempat dihabiskan. Keadaan Kafe yang semakin sepi turut berkonspirasi  menambah sunyi yang sama sekali tidak disukai. Diantara keheningan yang mencekam itu, hanya ada gerak jarum jam yang terdengar beraturan---tidak seperti detak jantung perempuan itu yang sudah tidak karuan. Helaan nafas terdengar di menit kesekian sejak keterdiaman yang panjang. Bukan berasal dari si perempuan, tapi dari si laki-laki yang tampaknya sudah tidak tahan ditikam sunyi. Ia memandang sekali lagi perempuan yang masih betah menunduk itu dengan segenap peras...