Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Janji Pada Diri

 Janji Pada Diri Kesal pada diri sendiri yang begitu mudah mengingkari janji. Berkata akan berubah, tapi terlalu malas untuk berbenah.  Marah pada diri sendiri yang betah berlena-lena pada hal sia-sia. Menunda seakan jadi kebiasaan. Zona nyaman terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Padahal, waktu terus berjalan maju tanpa sudi menolehkan wajah ke belakang. Dalam tawa sumbang penuh rasa kasihan, sang waktu berbisik pelan, 'hai diri yang lalai, lekaslah sadar, atau kau akan habis oleh perputaranku!' Ingin memaki diri yang masih betah berdiam diri padahal orang-orang sudah mulai berlari. Apasih, yang sedang ditunggu? Kesempatan? Ada berapa banyak kesempatan yang dibiarkan lewat begitu saja? Terlalu merendah pada kemampuan diri, padahal Allah menitipkan segala potensi. Iya, potensi terpendam yang tidak pernah digali.  Belum lagi buruk sangka akan masa depan yang melahirkan banyak ketakuan.  Apasih, yang ditakuti? Masa depanmu akan baik-baik saja selagi Allah ada di sana. Iy...

Tiket

 "Gentaaaaa!" Genta pasti tidak menyangka aku bisa tersenyum secerah ini dan meneriakkan namanya senyaring ini. Begitupun denganku yang langsung mengambil langkah lebar-lebar agar bisa sampai lebih cepat ke tempat ia berdiri.  Gedung fakultasku memang selalu ramai pada pergantian jam perkuliahan begini, sangat tidak memungkinkan bagiku untuk berlari menghampirinya tanpa menabrak beberapa orang yang kulewati.  Di sana, tepat di depan palang bertuliskan "Fakultas Ilmu Komunikasi", Genta berdiri sambil membawa serta tiket seminar kepenulisan yang kucari-cari, yang sudah habis terjual sejak hari pertama. Cukup mampu membuatku kesal karena tidak kebagian kursi.  "Kau berhasil mendapatkannya?" Tanyaku, setelah sampai di hadapannya.  "Tentu saja." Tiket itu berpindah tangan, aku menerimanya dengan segenap perasaan bahagia bercampur haru.  "Bagaimana bisa? Bukannnya sudah habis? Kau menyuap panitia, ya?" Aku memberondongnya dengan bermacam pert...

Menyesal Tidak Menulis

Kalau ditanya tentang hobi, jawabanku pasti tidak akan jauh-jauh dari membaca dan menulis. Aku telah menyenangi kedua kegiatan ini sejak masih sekolah dasar. Aku sangat suka membaca majalah anak-anak yang memuat banyak cerita pendek dan cerita bergambar di dalamnya, bahkan aku membelinya hampir setiap bulan. Lalu secara alami timbul keinginan untuk membuat cerita pendekku sendiri. Akhirnya, aku mulai menulis di kelas lima. Dimulai dari menulis diary yang hanya bisa kubaca sendiri, lalu mulai memberanikan diri menulis cerita untuk dibaca teman-temanku.  Bagiku, dulu, membaca dan menulis hanyalah sebuah hobi. Iya, sesuatu yang kusenangi untuk dikerjakan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami. Membaca dan menulis bukanlah kesenangan belaka, tetapi kebutuhan setiap manusia. Dan jangkauannya pun tidak sesempit cerita pendek yang biasa aku baca, tetapi mencakup ilmu pengetahuan seluruhnya. Bahkan, di dalam islam, perintah pertama yang turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasalla...

Kuliah Online Lagi!

Duh, semester depan perkuliahan dilaksanakan secara online lagi! Padahal, aku lebih menyukai perkuliahan tatap muka. Pun beberapa temanku mungkin akan berpendapat sama.  Perkuliahan online kupandang kurang efektif karena selain kita harus mengeluarkan biaya lebih untuk kuota yang tentu diperlukan dalam jumlah tidak sedikit, kita juga dihadapkan oleh masalah pemahaman yang pasti berbeda-beda setiap orang. Kalau kuliah tatap muka saja belum tentu paham, bagaimana dengan nasib kuliah online? Bisa-bisa cuma ngabisin kuota tapi ilmunya nggak dapet. Rugi dua kali, nggak, tuh? Untungnya, permasalahan kuota ini sudah bisa teratasi dengan adanya bantuan kuota sana-sini; ada yang dari kemendikbud, ada yang dari pihak kampus. Oh, jangan lupakan juga kemurahan hati beberapa provider yang mengratiskan beberapa forum belajar. Pokoknya, masalah kuota—asal bisa berhemat dalam menggunakannya—aman!  Nah, jika sudah memiliki sokongan kuota, apakah itu artinya kita bisa mengikuti proses perkuliah...