Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Maaf Kepada Diri

Di momen lebaran ini, hal yang tak kalah penting dari meminta maaf kepada sanak keluarga, kerabat, orang terdekat, ataupun orang-orang yang kita pernah bersalah dengan mereka, adalah meminta maaf kepada diri sendiri. Disadari atau tidak disadari, diri sendiri lebih sering kita dzolimi, bahkan setiap hari. Seberapa sering kita menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang tak semestinya? Seberapa sering kita menggunakan telinga untuk mendengar hal-hal yang tidak semestinya? Seberapa sering kita menggunakan mulut untuk mengucap hal-hal yang tidak semestinya? Seberapa sering kita menggunakan tangan dan kaki untuk melakukan hal-hal yang tidak semestinya? Tak terhitung jumlahnya. Hati sering kali kita biarkan kosong dan menghampa dari ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia. Pikiran sering kali kita penuhi dengan urusan duniawi mengabaikan urusan ukhrawi. Kita mengira semua anggota badan kita akan selamanya terdiam dalam kebisuan. Padahal mereka hanya sedang menunggu waktu untuk mengadukan ...

Untuk kamu

Terlepas dari hal apapun yang sedang kamu perjuangkan saat ini, jangan tergesa-gesa, ya. Pelan-pelan saja. Nikmati prosesmu. Jangan sampai kamu kehilangan banyak hikmah yang bisa kamu dapat dalam perjalananmu hanya karena silau melihat orang lain yang telah sampai di tujuannya terlebih dahulu.  Jadikan orang-orang itu penyemangatmu. Entah kesulitan, ketakutan, kekhawatiran, semua itu adalah amunisi yang membuatmu tetap bergerak maju. Alih-alih melawan, kamu bisa menjadikan mereka teman. Bukankah tanpa mereka perjalananmu akan terasa hampa dan membosankan?  Jangan terlalu sering berpikir berlebihan, ya. Takdirmu sudah ditentukan. Yang perlu kamu lakukan hanyalah berusaha dan mendoakan yang terbaik.  Aku selalu bangga pada kemajuanmu sekecil dan sesedikit apapun itu. Oleh karena itu jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri. Kamu mampu, Allah telah menganugerahimu potensi terbesar yang tidak di berikannya kepada makhluk lain; akal. Allah pemilik segala kemudahan dan kau aka...

Iri Manusiawi

Iri, menurutku itu suatu hal yang manusiawi. Apa ada orang di dunia ini yang bisa terhindar dari perasaan semacam ini? Maksudku, siapa saja, terlebih orang biasa dengan tingkat keimanan rata-rata tentulah pernah merasakannya. Entah iri itu datang dari perkara akhirat atau dunia, atau bisa juga keduanya?  Ketika tampak di depan mata seseorang dengan segala kelebihannya, tentulah ada perasaan ingin menjadi seperti dirinya. Kehidupannya tampak indah sekali, kelihatannya. Dibandingkan hidupku, rasanya sangat biasa-biasa saja.  Keluarga yang lengkap dan hangat, seperti apa rasanya berada di antara mereka? Rasa aman dan terlindungi yang membuatmu takkan takut menghadapi ketidakpastian dunia dengan segala ombang-ambing di dalamnya. Perlindungan yang bisa membuatmu berdiri tegak,  dan kasih sayang yang yang membuatmu merasa utuh. Aku, juga ingin perlindungan semacam itu. Kamu takkan tahu, kebahagian yang tampak disenyummu menggores luka di hati terdalamku. Mengapa aku tidak bisa ...

Bagaimana?

Beberapa hari ini isi pikiran sama hati lagi campur aduk. Ada banyak hal yang mestinya nggak usah terlalu dipikirin tapi malah dipikirin. Begitupun dengan rasa yang harusnya nggak usah terlalu dirasain tapi malah dirasain. Overthinking? Iya mungkin.  Apa yang salah? Apa yang mengundang gundah? Pertanyaan ini sudah terlampau sering mampir di pikiran. Meski tahu jawabannya, tapi keluar dari zona itu sungguh tidaklah mudah. Ada hal-hal yang sangat sulit untuk dilepas. Atau mungkin, bukannya sulit, tapi akunya saja yang kurang bertekad?  Aku yang ingin berkembang tapi seperti ada tembok besar yang menghadang. Bagaimana cara kuhancurkan tembok itu? Bagaimana cara aku untuk keluar, melepaskan diri dari sesuatu yang membelenggu? Pertanyaan itu sudah kutahu jawabannya, tapi belum juga tergerak menuju kesana.  ---

Sekali Lagi

  Sekian lama tidak menulis dan hampir melupakan caranya. Membaca satu persatu tulisan lama terkadang bisa membuat geli diri sendiri. Aku menikmati proses dibalik setiap cerita sederhana itu. Setiap kata hinga tanda baca tidak luput dari perhatian. Meski, yah, selalu ada kekurangan yang menuntut perbaikan. Setiap tokoh kuperlakukan seperti teman , s eolah mereka memang benar nyata dan sedang menceritakan kisahnya lewat aksara yang kutuliskan. Aku menyukai cerita ringan yang tak sampai membuat alis berkerut ketika membacanya. Atau, membuatku berpikir terlalu keras ketika ingin mengungkapkannya. Sesedikit apapun itu, aku selalu berusaha menyisipkan makna dalam setiap cerita. Mana tahu tulisanku yang sederhana bisa menyentuh hati walau tidak seberapa. Ah, saat ini, aku sedang benar-benar merindukan perasaan semacam ini. Rupanya, menulis perlahan sudah menjadi bagian dari diriku, meski sudah sekian lamanya terjeda. Perasaan rindu itu akan menarikku kembali sebelum sempat berpikir unt...