Pentol Kuah
"Keluar, yuk! Orang-orang pada malam mingguan, masa kita rebahan di kos doang?" Tata melempar pandangannya pada Oliv yang sedang sibuk berkutat dengan laptop dan tumpukan kertas laporan berisi nama-nama ilmiah dari berbagai macam tumbuhan yang susah untuk dilafalkan. Pemandangan—membosankan—yang hampir setiap malam Tata saksikan dari teman sekamarnya.
"Kamu doang kali, Ta, yang rebahan. Aku mah enggak," Sahut Oliv. Matanya masih fokus menatapi layar laptop sambil sesekali mengetikkan sesuatu di atas papan keyboard. Beberapa kali kacamatanya melorot, terakhir ia biarkan menyangkut di ujung hidung.
"Aku rebahan gini doang aja capek, Liv. Gimana kamu yang tiap malam ngurusin laporan praktikum mulu? Bawa refreshing dulu nggak papa, kali. Mumpung besok libur juga," Ucap Tata. Sedari tadi kerjaannya hanya rebahan sambil menggeser-geser insta-story orang lain yang sebagian besar menampilkan keseruan suasana malam mingguan. Hhhh, bikin iri kaum rebahan saja!
Kalau disandingkan dengan Oliv, kesannya Tata kurang kerjaan sekali. Padahal, tugas kuliahnya tidak kalah banyak dari Oliv. Hanya saja, berbeda dengan Oliv, Tata memiliki sebuah prinsip yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Malam minggu itu buat santai-santai, refreshing. Jangan dipakai mikir yang berat-berat, begitulah kira-kira prinsip Tata. Makanya, setiap malam minggu tiba, pantang bagi Tata untuk mengerjakan tugas dalam bentuk apapun. Yah, kecuali kalau terdesak oleh deadline, mau tak mau Tata harus melanggar pantangannya sendiri.
Oliv tahu betul dengan prinsip Tata yang satu ini. Jadi, dia maklum-maklum saja melihat Tata hanya gegoleran di atas kasur lipatnya. Kalau dipikir-pikir lagi, Tata ada benarnya juga. Tidak bisa dipungkiri, mengerjakan laporan praktikum hampir setiap malam membuat Oliv merasa jenuh. Mungkin kali ini ia perlu mendengarkan perkataan Tata. Rehat sebentar, tentu tidak apa-apa, kan?
"Kok, tiba-tiba aku pengen makan pentol kuah dekat kampus, ya?"
"Yaudah, beli."
"Temenin dong, Ta."
"Hah, beneran?" Tata langsung bangkit dari posisi rebahannya, dilihatnya Oliv yang sekarang sedang mematikan laptop dan membereskan barang-barangnya. "Terus, laporan praktikumnya gimana?"
"Ya nanti kan bisa dilanjut lagi. Nggak konsen juga kalau perut laper." Ucap Oliv, tangannya bergerak memasukkan laptop ke dalam tas. "Oh iya, mumpung tanggal muda, aku traktir kamu, ya."
Senyum Tata otomatis mengembang. Perkataan Oliv terasa seperti angin segar untuknya. Tanpa banyak menunggu, ia segera bersiap-siap. Jarak dari kos ke kampus mereka tidak terlalu jauh, bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Tapi, untuk mempersingkat waktu, mereka pergi dengan naik motor milik Oliv. Tata yang menyetir, Oliv tinggal duduk manis di belakang.
Tempat tujuan mereka adalah pedagang pentol kuah gerobak yang biasanya mangkal di dekat kampus. Pentolnya terkenal enak dan manjadi favorit para mahasiswa. Beruntunglah ketika sampai di sana, pembelinya sedang tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak perlu mengantri lama.
Jika orang lain menghabiskan malam minggunya di kafe, rumah makan, atau kedai kopi, Tata dan Oliv sudah cukup bahagia dengan dua porsi pentol kuah dan dua botol air mineral yang memang sengaja dibawa dari kos mereka—lumayan untuk menghemat pengeluaran. Mereka memilih makan di sana dan duduk di kursi plastik yang tersedia.
"Kalau mau nambah, ambil aja, Ta. Nggak usah sok malu-malu kebo," Ucap Oliv ketika dilihatnya mangkuk Tata hanya tinggal tersisa kuahnya saja.
Tata nyengir kuda. "Beneran nih?" Tanyanya.
"Hmmmm." Oliv membalasnya dengan gumaman singkat karena mulutnya sedang penuh oleh makanan. Kedua pipi cewek itu bahkan sampai menggembung hingga membuat wajahnya terlihat lucu.
"Oliv teman terbaik sedunia!" Seru Tata. Segera saja ia bangkit dari duduknya untuk menambah porsi sebelum Oliv berubah pikiran.
"Bang, pentol kuahnya satu porsi dibungkus, ya. Nggak usah pakai sambal."
Deg.
Pergerakan tangan Tata yang hendak menusuk pentol isi telur incarannya otomatis terhenti oleh suara yang tanpa sengaja tertangkap rungunya. Suara tidak asing ini seperti milik . . . .
"Kak Bima?"
"Loh, Tata?"
Bingo! Pemilik suara tak asing itu adalah Bima, senior Tata di kampus, sekaligus cowok yang—ehem— diam-diam Tata suka.
"Kak Bima suka beli pentol kuah disini juga?" tanya Tata, namun setelahnya ia mengutuk dirinya sendiri karena telah mengajukan pertanyaan bodoh itu. Seperti tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot saja.
"Kadang-kadang aja, Ta. Kalau lagi kepengen." Bima tersenyum. Sebuah senyum ringan yang tanpa ia tahu menambah berat kerja jantung Tata. "Kamu sendiri gimana?"
"Eh? Iya, suka."
"Suka siapa?"
"Suka kak Bim—eh, pentol kuah."
Bima tertawa, Tata menahan malu.
"Jangan sering-sering ya, Ta. Micinnya nggak baik buat kesehatanmu."
Tata jadi membatalkan niatnya untuk menambah porsi. Kalau Bima yang meminta, bagaimana bisa ia tolak? Akhirnya, ia malah menemani Bima mengobrol sembari menunggu pesanan cowok itu.
"Kesini sendirian, Ta?" Tanya Bima.
"Sama temen, Kak, " Jawab Tata.
"Cowok?"
"Cewek."
"Oh, kirain." Bima tersenyum, ada perasaan lega yang tersimpan di balik senyumnya—yang luput dari perhatian Tata.
"Kalau diajak jalan sama cowok jangan mau, ya, Ta. Kecuali seniormu yang bernama Bima."
Hah?
Otak Tata masih memproses kalimat yang barusan didengarnya. Belum sempat ia merespon, Bima telah terlebih dahulu berpamitan setelah membayar pesananya.
Tata mendapatkan kembali kesadarannya ketika sosok Bima benar-benar menghilang dari hadapannya. Senyumnya terbit ketika menyadari maksud dari perkataan Bima. Sama seperti sebelumnya, kalau Bima yang meminta, mana bisa Tata tolak?
"Nambah seberapa banyak sih, Ta? Lama banget! Keburu punyaku habis." Omelan Oliv menyambut kedatangan Tata. Anehnya, bukannya takut, cewek itu malah tersenyum sumringah. Seperti orang yang baru saja menang undian mobil plus rumah mewah.
"Nggak jadi nambah. Micinnya nggak baik buat kesehatan." Ucap Tata masih dengan senyum yang sama. "Oh ya, Liv, uangmu simpan dulu saja, ya. Malam ini biar aku yang traktir."
"Loh? Tapi kan—"
"Ssttt, udah nggak papa. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih."
Oliv benar-benar tidak mengerti perkataan Tata, tapi akhirnya ia menurut saja dan membiarkan Tata yang membayar dua porsi pentol kuah mereka—bahkan mengikhlaskan uang kembaliannya.
Sepanjang jalan hingga tiba di kos, Tata masih saja mempertahankan senyumnya. Mengundang kerutan dalam di kening Oliv.
"Kenapa, sih, Ta, senyum-senyum mulu?"
"Kayaknya aku habis ketemu jodohku deh, Liv."
"Hah? Maksud kamu abang-abang yang jualan pentol kuah tadi?"
"Ish, bukanlah!" Tata sempat menunjukkan wajah kesal. Namun tidak bertahan lama karena setelahnya ia kembali tersenyum. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Bahkan hingga keesokan hari, senyum itu tak kunjung hilang. Oliv yang melihat sikap aneh teman sekamarnya ini bergidik ngeri.
"Ta, mau diruqyah, nggak?"
.
.
.
Ah, jatuh cinta ternyata lebih berbahaya dari pentol kuah yang banyak micinnya!
"Kamu doang kali, Ta, yang rebahan. Aku mah enggak," Sahut Oliv. Matanya masih fokus menatapi layar laptop sambil sesekali mengetikkan sesuatu di atas papan keyboard. Beberapa kali kacamatanya melorot, terakhir ia biarkan menyangkut di ujung hidung.
"Aku rebahan gini doang aja capek, Liv. Gimana kamu yang tiap malam ngurusin laporan praktikum mulu? Bawa refreshing dulu nggak papa, kali. Mumpung besok libur juga," Ucap Tata. Sedari tadi kerjaannya hanya rebahan sambil menggeser-geser insta-story orang lain yang sebagian besar menampilkan keseruan suasana malam mingguan. Hhhh, bikin iri kaum rebahan saja!
Kalau disandingkan dengan Oliv, kesannya Tata kurang kerjaan sekali. Padahal, tugas kuliahnya tidak kalah banyak dari Oliv. Hanya saja, berbeda dengan Oliv, Tata memiliki sebuah prinsip yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun.
Malam minggu itu buat santai-santai, refreshing. Jangan dipakai mikir yang berat-berat, begitulah kira-kira prinsip Tata. Makanya, setiap malam minggu tiba, pantang bagi Tata untuk mengerjakan tugas dalam bentuk apapun. Yah, kecuali kalau terdesak oleh deadline, mau tak mau Tata harus melanggar pantangannya sendiri.
Oliv tahu betul dengan prinsip Tata yang satu ini. Jadi, dia maklum-maklum saja melihat Tata hanya gegoleran di atas kasur lipatnya. Kalau dipikir-pikir lagi, Tata ada benarnya juga. Tidak bisa dipungkiri, mengerjakan laporan praktikum hampir setiap malam membuat Oliv merasa jenuh. Mungkin kali ini ia perlu mendengarkan perkataan Tata. Rehat sebentar, tentu tidak apa-apa, kan?
"Kok, tiba-tiba aku pengen makan pentol kuah dekat kampus, ya?"
"Yaudah, beli."
"Temenin dong, Ta."
"Hah, beneran?" Tata langsung bangkit dari posisi rebahannya, dilihatnya Oliv yang sekarang sedang mematikan laptop dan membereskan barang-barangnya. "Terus, laporan praktikumnya gimana?"
"Ya nanti kan bisa dilanjut lagi. Nggak konsen juga kalau perut laper." Ucap Oliv, tangannya bergerak memasukkan laptop ke dalam tas. "Oh iya, mumpung tanggal muda, aku traktir kamu, ya."
Senyum Tata otomatis mengembang. Perkataan Oliv terasa seperti angin segar untuknya. Tanpa banyak menunggu, ia segera bersiap-siap. Jarak dari kos ke kampus mereka tidak terlalu jauh, bahkan bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Tapi, untuk mempersingkat waktu, mereka pergi dengan naik motor milik Oliv. Tata yang menyetir, Oliv tinggal duduk manis di belakang.
Tempat tujuan mereka adalah pedagang pentol kuah gerobak yang biasanya mangkal di dekat kampus. Pentolnya terkenal enak dan manjadi favorit para mahasiswa. Beruntunglah ketika sampai di sana, pembelinya sedang tidak terlalu ramai sehingga mereka tidak perlu mengantri lama.
Jika orang lain menghabiskan malam minggunya di kafe, rumah makan, atau kedai kopi, Tata dan Oliv sudah cukup bahagia dengan dua porsi pentol kuah dan dua botol air mineral yang memang sengaja dibawa dari kos mereka—lumayan untuk menghemat pengeluaran. Mereka memilih makan di sana dan duduk di kursi plastik yang tersedia.
"Kalau mau nambah, ambil aja, Ta. Nggak usah sok malu-malu kebo," Ucap Oliv ketika dilihatnya mangkuk Tata hanya tinggal tersisa kuahnya saja.
Tata nyengir kuda. "Beneran nih?" Tanyanya.
"Hmmmm." Oliv membalasnya dengan gumaman singkat karena mulutnya sedang penuh oleh makanan. Kedua pipi cewek itu bahkan sampai menggembung hingga membuat wajahnya terlihat lucu.
"Oliv teman terbaik sedunia!" Seru Tata. Segera saja ia bangkit dari duduknya untuk menambah porsi sebelum Oliv berubah pikiran.
"Bang, pentol kuahnya satu porsi dibungkus, ya. Nggak usah pakai sambal."
Deg.
Pergerakan tangan Tata yang hendak menusuk pentol isi telur incarannya otomatis terhenti oleh suara yang tanpa sengaja tertangkap rungunya. Suara tidak asing ini seperti milik . . . .
"Kak Bima?"
"Loh, Tata?"
Bingo! Pemilik suara tak asing itu adalah Bima, senior Tata di kampus, sekaligus cowok yang—ehem— diam-diam Tata suka.
"Kak Bima suka beli pentol kuah disini juga?" tanya Tata, namun setelahnya ia mengutuk dirinya sendiri karena telah mengajukan pertanyaan bodoh itu. Seperti tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot saja.
"Kadang-kadang aja, Ta. Kalau lagi kepengen." Bima tersenyum. Sebuah senyum ringan yang tanpa ia tahu menambah berat kerja jantung Tata. "Kamu sendiri gimana?"
"Eh? Iya, suka."
"Suka siapa?"
"Suka kak Bim—eh, pentol kuah."
Bima tertawa, Tata menahan malu.
"Jangan sering-sering ya, Ta. Micinnya nggak baik buat kesehatanmu."
Tata jadi membatalkan niatnya untuk menambah porsi. Kalau Bima yang meminta, bagaimana bisa ia tolak? Akhirnya, ia malah menemani Bima mengobrol sembari menunggu pesanan cowok itu.
"Kesini sendirian, Ta?" Tanya Bima.
"Sama temen, Kak, " Jawab Tata.
"Cowok?"
"Cewek."
"Oh, kirain." Bima tersenyum, ada perasaan lega yang tersimpan di balik senyumnya—yang luput dari perhatian Tata.
"Kalau diajak jalan sama cowok jangan mau, ya, Ta. Kecuali seniormu yang bernama Bima."
Hah?
Otak Tata masih memproses kalimat yang barusan didengarnya. Belum sempat ia merespon, Bima telah terlebih dahulu berpamitan setelah membayar pesananya.
Tata mendapatkan kembali kesadarannya ketika sosok Bima benar-benar menghilang dari hadapannya. Senyumnya terbit ketika menyadari maksud dari perkataan Bima. Sama seperti sebelumnya, kalau Bima yang meminta, mana bisa Tata tolak?
"Nambah seberapa banyak sih, Ta? Lama banget! Keburu punyaku habis." Omelan Oliv menyambut kedatangan Tata. Anehnya, bukannya takut, cewek itu malah tersenyum sumringah. Seperti orang yang baru saja menang undian mobil plus rumah mewah.
"Nggak jadi nambah. Micinnya nggak baik buat kesehatan." Ucap Tata masih dengan senyum yang sama. "Oh ya, Liv, uangmu simpan dulu saja, ya. Malam ini biar aku yang traktir."
"Loh? Tapi kan—"
"Ssttt, udah nggak papa. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih."
Oliv benar-benar tidak mengerti perkataan Tata, tapi akhirnya ia menurut saja dan membiarkan Tata yang membayar dua porsi pentol kuah mereka—bahkan mengikhlaskan uang kembaliannya.
Sepanjang jalan hingga tiba di kos, Tata masih saja mempertahankan senyumnya. Mengundang kerutan dalam di kening Oliv.
"Kenapa, sih, Ta, senyum-senyum mulu?"
"Kayaknya aku habis ketemu jodohku deh, Liv."
"Hah? Maksud kamu abang-abang yang jualan pentol kuah tadi?"
"Ish, bukanlah!" Tata sempat menunjukkan wajah kesal. Namun tidak bertahan lama karena setelahnya ia kembali tersenyum. Bahkan lebih lebar dari sebelumnya. Bahkan hingga keesokan hari, senyum itu tak kunjung hilang. Oliv yang melihat sikap aneh teman sekamarnya ini bergidik ngeri.
"Ta, mau diruqyah, nggak?"
.
.
.
Ah, jatuh cinta ternyata lebih berbahaya dari pentol kuah yang banyak micinnya!
Wkwkwkwkw.. Kaya kisah nyata lah hahaha
BalasHapusSiapa kah ituuuu
HapusWkwk.. suka bgt ceritanya..
BalasHapusLanjuuuut ya