Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

Merayakan Perpisahan

"Kita sudahi saja, ya." Perempuan itu berkata pelan, seakan tidak yakin pada perkataannya sendiri. Ia menunduk dalam, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata meneduhkan milik seorang laki-laki dihadapannya. Jari-jari tangannya bertaut, saling meremas cemas dari balik meja kayu yang menjadi pembentang jarak diantara mereka. Hening. Malam semakin larut, dua cangkir cokelat panas yang mereka pesan sudah mendingin diterpa angin malam sebelum sempat dihabiskan. Keadaan Kafe yang semakin sepi turut berkonspirasi  menambah sunyi yang sama sekali tidak disukai. Diantara keheningan yang mencekam itu, hanya ada gerak jarum jam yang terdengar beraturan---tidak seperti detak jantung perempuan itu yang sudah tidak karuan. Helaan nafas terdengar di menit kesekian sejak keterdiaman yang panjang. Bukan berasal dari si perempuan, tapi dari si laki-laki yang tampaknya sudah tidak tahan ditikam sunyi. Ia memandang sekali lagi perempuan yang masih betah menunduk itu dengan segenap peras...

Kita tanpa 'KITA'

Tadinya ku kira, punggung yang sedang berdiri membelakangi ku itu adalah punggungmu. Habisnya dari belakang terlihat mirip sekali. Entah penglihatanku yang keliru atau pikiranku yang sedang kelu. Atau mungkin, karena cuaca yang tiba-tiba berubah sendu? Hmm.. Tidak tahu. Yang jelas bukan karena rindu. Hari-hari yang terlewati setelah percakapan terakhir kita, aku sudah berhenti menghitungnya. Aku bahkan lupa sudah berapa lama kita tak saling bertatap muka. Pun pesan-pesan lama kita, sudah ku hapus semua. Namamu kini sudah tak lagi menempati ruang utama di bilik hatiku. Hanya saja, pikiranku sesekali iseng memanggil ingatan tentangmu. Seperti kali ini. Aku jadi teringat pada perkataan sebuah hadits, "Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Mungkin suatu hari nanti, kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya. Mungkin suatu hari kamu akan mencintainya." Barangkali, kesalahan terbesar kita adalah terlalu larut dalam euforia rasa. Tanpa pernah ...

Rumit

Kau rupanya masih sama. Keras kepala dan tidak mau mengalah. Aku pun rupanya masih sama. Tidak suka diperintah, tidak mau kalah. Mungkin, kesamaan ini lah yang akhirnya membentang jarak di antara kita. Kau bersikukuh dengan keinginanmu; untuk pergi. Dan aku mencoba bertahan dengan pilihanku; untuk tinggal dan menunggu. "Semuanya sudah berakhir," katamu. Tanpa kalimat tambahan yang menjelaskan apa dan mengapa. Kau pikir, aku bisa membaca semuanya lewat tatapan itu. Namun, kau salah. Aku tidak pernah mampu menyelami kedalaman matamu. Aku akan tenggelam lebih dulu sebelum berhasil sampai ke tepian. Nafasku tercekat,  aku sekarat. Usaha apapun yang kulakukan untuk menyelamatkan diri hanya berujung sia-sia. "Maaf karena telah melibatkanmu dalam kerumitan pikiranku," kau berkata dengan tulus. Permintaan maafmu itu, aku tidak memerlukannya. Barangkali kau lupa. Dulu, kau lah yang memintaku untuk tidak memahamimu. Kau saja tidak bisa mengerti dirimu dengan baik, lal...

Janji Kunang-Kunang

Kulihat kau begitu tampan malam itu. Sebelah tanganmu menggenggam erat tangan kecil ku sementara tanganmu yang lain membelai lembut surai hitam sepunggungku. Kau tersenyum lembut menatapku. Senyum yang menyimpan makna dibaliknya. Tetapi, kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti isyaratmu. "Ayah harus pergi." Katamu, masih dengan senyum yang sama. "Kemana?" Aku bertanya penasaran. Kita belum lama berjalan-jalan di taman yang indah ini dan aku masih belum ingin melepaskan genggaman tanganmu. Kita bahkan belum menemukan kunang-kunang yang kita cari. Kau tidak akan pergi dan membiarkanku mencari kunang-kunang sendirian, kan? "Ayah akan ke surga." Kita berhenti melangkah, entah sudah sejauh mana dari rumah. Bulan bersinar sangat terang malam ini. Namun bagiku, wajahmu terlihat lebih purna dari bulan diatas sana. "Aku ikut!" Aku berseru antusias. Ah, tidak apa-apa jika tidak bisa menemukan kunang-kunang. Pergi ke surga denganmu sepert...