Merayakan Perpisahan
"Kita sudahi saja, ya." Perempuan itu berkata pelan, seakan tidak yakin pada perkataannya sendiri. Ia menunduk dalam, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata meneduhkan milik seorang laki-laki dihadapannya. Jari-jari tangannya bertaut, saling meremas cemas dari balik meja kayu yang menjadi pembentang jarak diantara mereka. Hening. Malam semakin larut, dua cangkir cokelat panas yang mereka pesan sudah mendingin diterpa angin malam sebelum sempat dihabiskan. Keadaan Kafe yang semakin sepi turut berkonspirasi menambah sunyi yang sama sekali tidak disukai. Diantara keheningan yang mencekam itu, hanya ada gerak jarum jam yang terdengar beraturan---tidak seperti detak jantung perempuan itu yang sudah tidak karuan. Helaan nafas terdengar di menit kesekian sejak keterdiaman yang panjang. Bukan berasal dari si perempuan, tapi dari si laki-laki yang tampaknya sudah tidak tahan ditikam sunyi. Ia memandang sekali lagi perempuan yang masih betah menunduk itu dengan segenap peras...