Tiket
"Gentaaaaa!"
Genta pasti tidak menyangka aku bisa tersenyum secerah ini dan meneriakkan namanya senyaring ini. Begitupun denganku yang langsung mengambil langkah lebar-lebar agar bisa sampai lebih cepat ke tempat ia berdiri.
Gedung fakultasku memang selalu ramai pada pergantian jam perkuliahan begini, sangat tidak memungkinkan bagiku untuk berlari menghampirinya tanpa menabrak beberapa orang yang kulewati.
Di sana, tepat di depan palang bertuliskan "Fakultas Ilmu Komunikasi", Genta berdiri sambil membawa serta tiket seminar kepenulisan yang kucari-cari, yang sudah habis terjual sejak hari pertama. Cukup mampu membuatku kesal karena tidak kebagian kursi.
"Kau berhasil mendapatkannya?" Tanyaku, setelah sampai di hadapannya.
"Tentu saja."
Tiket itu berpindah tangan, aku menerimanya dengan segenap perasaan bahagia bercampur haru.
"Bagaimana bisa? Bukannnya sudah habis? Kau menyuap panitia, ya?" Aku memberondongnya dengan bermacam pertanyaan, masih tidak menyangka tiket yang kuimpikan telah berada di dalam genggaman.
Mendengar pertanyaanku, Genta memang ekspresi wajah sok tersinggung. "Enak saja! Aku mendapatkannya dengan cara yang halal, tau."
"Cara yang halal bagaimana?"
Ia kemudian bercerita perihal seorang temannya yang memiliki tiket itu namun tidak bisa berhadir pada hari pelaksaan karena terkendala jadwal perkuliahan.
"Kau bisa menggantikannya mengikuti seminar itu. Tapi sertifikatnya tetap akan menjadi miliknya karena tiket ini dibeli atas namanya. Tidak apa-apa, kan, Naya?"
Aku mengangguk mengiyakan, sama sekali tidak keberatan. "Lagipula, tujuanku kan bukan karena sertifikat."
"Lalu, karena apa? Hangka?" Tanya Genta.
Hangka, singkatan dari huruf dan angka. Sebuah nama pena yang cukup unik dari seorang penulis favoritku. Aku pernah membicarakan tentang Hangka beberapa kali, mungkin karena ini Genta masih mengingatnya. Pernah juga kupinjamkan beberapa buku karya Hangka kepada Genta, meski buku-buku itu tak kunjung ia tamatkan sampai sekarang. Genta bilang, ia tidak suka baca buku dan hanya suka membaca tulisanku. Tapi aku yakin ini hanya alasannya saja.
"Iya, sih. Tapi, tidak juga, kok! Tujuannya harus karena ilmu. Bukan karena orang yang memperantarai ilmu itu."
"Ah, begitukah? Tapi, kalau pengisi senimar itu bukan Hangka, kau pasti tidak akan se-excited ini, kan?" Genta menaikkan salah satu ujung bibirnya, menyeringai. Tanpa pikir panjang ku sepak lututnya dengan kakiku, setelah menyadari bahwa ia sedang mengejekku. Bukannya kesakitan, ia malah tergelak dalam tawa.
"Aku sudah memberimu tiket dan ini balasan yang kudapat?" Genta mengubah ekspresinya menjadi sedih. Ah, anak ini ternyata pandai sekali playing victim.
Aku mengela nafas. "Apa yang kau inginkan?"
"Emmmm... " Kali ini, ia memasang wajah berpikir yang begitu menyebalkan, sementara aku berusaha mengingat jumlah rupiah yang tersisa di dompetku, khawatir kalau-kalau ia minta traktir.
Nyatanya, ia malah mengucapkan kalimat permintaan yang tak terduga.
"Aku ingin Naya selalu berbahagia."
🌻
Komentar
Posting Komentar