Teman Berjuang
Pada suatu waktu, kau termenung memandangi deretan kertas yang tertempel rapi di salah satu sudut dinding kamarmu. Bukan kertas biasa. Padanya, mimpi-mimpimu kau abadikan dalam goresan tinta berwarna-warni—merah muda, biru dan jingga menjadi pilihan warna kesukaanmu—berikut rencana dan target-terget yang telah kau perhitungkan dalam kadar yang sesuai dengan kemampuanmu. Tidak lupa pula kau sertakan kalimat-kalimat motivasi sebagai penguat langkahmu untuk mencapai mimpi-mimpi yang berharga itu.
Kau berusaha membuatnya secantik mungkin, menghiasnya dengan origami berbentuk hati agar tidak membosankan ketika dipandangi. Belum cukup dengan origami, kau tambahkan lagi stiker berbentuk karakter-karakter lucu yang kau sukai.
Sudut kamarmu yang hampa berubah penuh warna. Kau senang memandanginya dan kau bersemangat untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahmu yang terukir disana. Tapi, sesuatu dalam dirimu kemudian mengkhianatimu tanpa kau duga-duga; kemalasan itu datang tanpa aba-aba.
Awalnya, kemalasanmu tidak menampakkan wujudnya dengan kentara. Kau menyebutnya sebagai jeda diantara riuh aktivitasmu. Tapi, jedamu agaknya terlalu lama untuk sang waktu yang terus bergerak maju.
Rencana-rencana yang kau susun tidak berjalan sebagaimana mestinya. Target-target yang kau tetapkan pun banyak yang terlupa. Kalimat-kalimat motivasi hanya menjadi kumpulan kata yang tidak memberi efek apa-apa.
Lagi, untuk yang kesekian kali, kau memberi pemakluman kepada diri. Kau ingin melangkah, tapi lebih dulu kehilangan arah. Kau terus membuat banyak alasan padahal yang harus kau lakukan hanyalah memulainya kembali. Kau bertanya kepada diri, apa yang salah? Tanpa kau sadari kesalahan itu ada apa dirimu sendiri.
Tapi, meskipun kau sadar, mudah saja bagimu memaafkan diri sendiri. Lalu mengulanginya lagi lain kali. Siklus yang berulang. Kau terjebak di dalamnya.
Kau akhirnya sadar bahwa kau tidak bisa terjebak selamanya dalam siklus yang merugikan ini. Kau harus berhenti membuat alasan; kertas-kertas yang tertempel di dinding kamarmu itu menyuarakan alasanmu lebih nyaring dari isi kepalamu sendiri. Kau hanya harus memulai memulainya lagi. Tapi, setelah sekian lama terkukung jeda, kau merasa kehilangan daya.
Matamu bergerak, dari sudut dinding yang penuh tempelan kertas, beralih ke sudut lain yang penuh oleh tempelan foto. Salah satunya menunjukkan wajahmu yang tersenyum ceria sembari memamerkan piagam dan ijzah yang baru diterima, kentara sekali baru tamat SMA. Lalu foto lain menunjukkan kebersamaanmu dengan teman-teman baru di kampus yang baru. Masing-masing kalian melengkungkan senyum berseri-seri, belum mengerti akan sehebat apa badai yang akan diterjang nanti.
Kau memutuskan untuk menghubungi salah satu temanmu dan menceritakan perihal badai kecil yang kau alami kepadanya. Tanpa kau tahu, temanmu juga mengalami badai serupa. Sejenak kau lega bahwa kau bukan satu-satunya orang yang mengalaminya, lalu kau pun terpikir sesuatu yang belum pernah mampir di kepalamu sebelumnya.
Malam itu, kau mengambil beberapa lembar kertas yang baru. Lalu menghabiskan waktu sepanjang malam untuk merombak kembali rencana-rencanamu. Setelah menceritakan perihal badai masing-masing, kau dan temanmu bersepakat untuk saling bekerja sama melewatinya. Kau menyebutnya sebagai teman berjuang.
Mungkin sulit bagimu memulainya kembali dengan hanya mengandalkan diri sendiri. Karena itu, memiliki teman berjuang bisa jadi merupakan jalan keluar yang selama ini kau cari. Bukan berarti kau tidak percaya pada kemampuan diri, tapi bukankah memberi terlalu banyak pemakluman juga merupakan bentuk pengkhianatan pada diri?
Dengan adanya teman berjuang kita bisa saling menyemangati, mengawasi, dan mematri mimpi dalam tiap langkah yang dilewati.
Lagipula, berjuang sendirian itu melelahkan. Nah, kawan, sudah menemukan teman berjuangmu?
.
.
.
Teruslah tumbuh🌱
Betul betul. Saya juga punya teman berjuang wk.
BalasHapus