Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2020

Maharah dan Anashir al-Lughoh

Dalam pembelajaran bahasa Arab, terdapat dua istilah penting yang wajib kita ketahui, yaitu Maharah al-Lughoh dan Anashir al-Lughoh. Kedua isitilah ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman karena dianggap sebagai satu kesatuan. Padahal keduanya memiliki esensi yang berbeda.  Apa yang membuat keduanya berbeda? Kita bahasa secara singkat dan sederhana, ya. Pertama, Maharah al-Lughah , artinya kemahiran berbahasa. Kemahiran berbahasa ini mencakup empat kemahiran yang harus dikuasai ketika seseorang belajar bahasa, yaitu mendengar ( istima '), berbicara ( kalam ), membaca ( qira'ah ), dan menulis ( kitabah ).  Dr. Halimi Zuhdy, selaku ketua jurusan Sastra dan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim, mengatakan bahwa kemahiran berbahasa bukanlah sebuah ilmu, sehingga untuk memperolehnya tidak perlu "sekolah". Beliau menceritakan pengalaman bertemu dengan pedagang-pedagang yang berjualan di sekitar Kampung Ingris, Pare. Apa yang membuat beliau kagum adalah mereka sangat pa...

Warnamu

Genta membalik tiap halaman yang sudah selesai ia baca dengan tenang. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan secara teratur mengikuti barisan huruf yang berjajar rapi membentuk satu kesatuan tulisan. Tulisanku.  Aku diam memandanginya, menunggunya selesai membaca. Sesekali ku hisap miltie buble-ku yang cup nya telah basah oleh butiran-butiran air hasil pencairan es. Cuaca yang hujan di luar sana tidak sama sekali menghalangiku untuk memesan minuman favoritku ini. Berbeda dengan Genta yang—biasanya memesan miltie buble bersamaku—kali ini memesan segelas cappuchino hangat. Permukaan gelasnya menampilkan uap-uap tipis yang terangkat naik lalu bergerak menyebar secara acak. Aku khawatir minumannya keburu dingin sebelum sempat ia habiskan. "Hhh..." Helaan nafasnya terdengar. Bersamaan dengan tangannya yang menutup buku bersampul cokelat tua—yang sejak tadi menjadi fokus utamanya—dan menggesernya di atas meja, ke arah ku. Di bagian depan buku tersebut tertulis namaku, Kanaya Nabi...

Belajar dari 'Guru Aini'

Gambar
Warning❗❗❗ Mengandung  banyak spoiler Pernah merasa kesulitan dalam sebuah pelajaran? Saking kesulitannya sampai mengalami gemetar, mual atau sakit perut yang datang tiba-tiba dan hilang ketika pelajaran tersebut telah berlalu? Jika iya, mungkin anda sedang mengalami seperti apa yang dirasakan oleh Aini. Setiap kali jam pelajaran matematika tiba, perutnya akan mulas seketika. Sepanjang pelajaran, ia berjuang menghadapi sakit perut yang anehnya akan lenyap dengan sendirinya begitu pelajaran tersebut berakhir. Pelajaran usai, Aini kembali segar bugar. Bagi Aini, matematika dibawa oleh semacam makhluk asing bertopeng hantu untuk menyengsarakan anak-anak. Sebegitu menakutkannya matematika sampai Aini merasa digentayangi pelajaran hitung-hitungan tersebut bahkan sejak masih berstatus sebagai murid SD dan kengeriannya itu tak kunjung sirna hingga ia menjejak bangku SMA. Tak peduli siapapun pengajarnya, Aini merasa ia tidak akan pernah bisa berdamai dengan matematika. Terbukti dengan kons...

"Tapi kan, aku bukan lulusan pondok pesantren..."

Gambar
Tidak terasa sudah berada dipenghujung semester empat. Padahal, rasanya baru kemarin memperkenalkan diri di kelas untuk pertama kali, menjawab pertanyaan tentang alasan kenapa memilih masuk jurusan ini, lalu diwanti-wanti untuk bertahan apapu rintangan yang menanti. Bahkan, masih hangat di ingatan perihal 'Cinta Palsu' yang terdengar ringan namun ternyata berat ketika dimaknai. Sebuah peringatan sunyi untuk berhati-hati. Berhati-hati dari apa? Awalnya memang tidak terlalu mengerti. Tapi seiring waktu jawabannya bisa ditemukan sendiri. Tidak terasa semester lima sudah di depan mata. Ah, semester tadi saja rasanya sudah berat sekali, lalu bagaimana nasib semester depan nanti? Hmm, tidak tahu. Tapi, semakin tidak ingin dipikirkan malah semakin kepikiran. Sebentar lagi akan memasuki semester tua, tapi kemampuan masih begini-begini saja. Apa kata dunia??? Dulu, ada sebuah kalimat yang sering di—salah—gunakan untuk membela diri. "Aku kan bukan lulusan pondok pesantren..." B...

Bintang Utara

Kita adalah pengembara. Dunia ini, katamu, hanyalah kabut yang terlihat terang. Laut yang luas seringkali membuat kita tersesat, gelombangnya pasang surut mempermainkan perahu kecil kita. Di atas sana, Langit selalu diam dan tenang tapi tidak pernah luput memerhatikan. Ia menangkap setiap kegelisahan yang kita rasakan. Maka, dititipkannya cahaya pada Bintang Utara sebagai penuntun jalan kita untuk pulang. Lewat binarnya yang mengagumkan, ia ingin kita tahu bahwa selalu ada harapan untuk setiap yakin yang tertanam. Badai mungkin sesekali mampir mengundang ketakutan, merapuhkan harapan. Tapi setidaknya, kita sudah tahu kemana harus menuju. Maka, bertahanlah sebentar lagi. Perjalanan panjang ini akan berhasil kita lalui.  06/08/19