Belajar dari 'Guru Aini'
Warning❗❗❗
Mengandung banyak spoiler
Pernah merasa kesulitan dalam sebuah pelajaran? Saking kesulitannya sampai mengalami gemetar, mual atau sakit perut yang datang tiba-tiba dan hilang ketika pelajaran tersebut telah berlalu?
Jika iya, mungkin anda sedang mengalami seperti apa yang dirasakan oleh Aini. Setiap kali jam pelajaran matematika tiba, perutnya akan mulas seketika. Sepanjang pelajaran, ia berjuang menghadapi sakit perut yang anehnya akan lenyap dengan sendirinya begitu pelajaran tersebut berakhir. Pelajaran usai, Aini kembali segar bugar.
Bagi Aini, matematika dibawa oleh semacam makhluk asing bertopeng hantu untuk menyengsarakan anak-anak. Sebegitu menakutkannya matematika sampai Aini merasa digentayangi pelajaran hitung-hitungan tersebut bahkan sejak masih berstatus sebagai murid SD dan kengeriannya itu tak kunjung sirna hingga ia menjejak bangku SMA.
Tak peduli siapapun pengajarnya, Aini merasa ia tidak akan pernah bisa berdamai dengan matematika. Terbukti dengan konsistennya ia megemban tugas menghapus papan tulis walaupun bukan giliran piketnya—yang sebenarnya adalah bentuk hukuman karena tidak bisa menjawab soal matematika yang diberikan guru di papan tulis. Angka 1 dan 0 bergantian menghiasi buku latihan matematikanya. Dan bisa dipastika nilai matematika di rapotnya akan berwarna merah merona-rona.
Kehidupan Aini di SMA rupanya tidak jauh berbeda. Sakit perut masih sering menderanya di jam pelajaran matematika. Satu-satunya hal yang bisa disyukuri oleh Aini adalah ia tidak masuk di kelas Guru Desi.
Guru Desi. Seorang guru matematika yang sangat pintar namun eksentrik. Gaya nyentriknya itu bisa dilihat dari tampilan mengajarnya yang selalu menggunakan sepatu olahraga putih bergaris-garis merah. Konon katanya, Guru Desi terikat dengan sebuah sumpah yang membuatnya tidak bisa berhenti memakai sepatu olahraga tersebut meski keadaanya sudah sangat mengenaskan dan usang. Sumpahnya itu ia beri nama 'Sumpah Sepatu'. Selain itu, Guru Desi memiliki cara mengikat sepatu yang sangat aneh, seperti cara mengikat sepatu pemain sepak bola.
Hal lain yang menonjol dari Guru Desi adalah mimpi besarnya untuk menemukan seorang atau, kalau beruntung, lebih dari seorang, anak genius matematika di kampung pelosok. Idealismenya yang kuat akhirnya menuntun langkahnya untuk mengajar di Ketumbi, nun jauh di ujung selatan pulau Sumatera.
Namun, mewujudkan mimpinya ini ternyata bukanlah perkara mudah. Terlebih ini berkaitan dengan matematika. Jangankan murid, rekan guru yang seprofesi dengannya saja mengeluh tentang betapa sulitnya matematika untuk diajarkan. Namun, bukan Guru Desi namanya kalau menyerah begitu saja.
Tahun demi tahun terlewati hingga akhirnya ia menemukan seorang anak yang ia percayai akan mewujudkan impiannya. Seorang genius matematika! Senang nian Guru Desi. Tapi rupanya perasaan senang itu tidak bertahan lama, karena anak tersebut menyia-nyiakan kepercayaan Guru Desi dan membuatnya sakit hati luar biasa. Rasa sakit hati memberi pengaruh nyata terhadap pribadi Guru Desi. Bukannya terkikis, idealismenya malah semakin kuat mengakar. Ia akhirnya menjadi sosok guru yang ditakuti sekaligus disegani oleh para murid dan rekan guru seprofesinya.
Aini termasuk salah satu murid yang tidak ingin berurusan dengan Guru Desi. Hingga suatu hari, keadaan memaksanya untuk menghadapi ketakutan terbesarnya; masuk ke kelas Guru Desi dan belajar matematika darinya.
Guru Desi tidak serta merta mau menerima Aini. Terutama setelah meihat nilai ulangan matematikanya yang macam bahasa komputer bilangan biner; 1 0 1 0. Tapi, tekad yang ditunjukkan Aini membuat pintu hati Guru Desi terbuka sedikit untuk menerima anak itu sebagai muridnya.
Hari-hari yang dijalani Aini belajar matematika dengan Guru Desi jauh dari kata menyenangkan. Makian, cacian, sumpah serapah sudah menjadi santapan sehari-harinya. Tapi itu sama sekali tidak melemahkan semangat Aini untuk datang menemui Guru Desi dan belajar matematika darinya.
Guru Desi pernah hampir frustasi dan sempat ingin menyerah mengajari Aini. Segala cara yang diupayakannya tidak sedikitpun berhasil menghilangkan kebodohan Aini akan angka dan hitungan. Di tengah keputus asaannya, ia tiba-tiba mendapat sebuah pencerahan.
———
Apa yang akan dilakukan Guru Desi untuk Aini? Akankah ia menemukan seorang genius matematika seperti impiannya?
Mampukah Aini bertahan menghadapi segala tekanan yang diberikan oleh Guru Desi? Berhasilkah ia menaklukan matematika?
Semuanya bisa ditemukan jawabannya di dalam novel 'Guru Aini' karya Andrea Hirata. Ada dua tokoh sentral di dalam cerita ini, yaitu Aini dan Guru Desi. Sudut pandang orang ketiga yang serba tahu di dalam cerita ini membuat penulis bebas mengeksplorasi kehidupan Aini dan Guru Desi. Sangat menyenangkan rasanya menyelami dua karakter tokoh yang berbeda ini. Selain itu, gaya penulisan yang sederhana dan disisipi humor jenaka membuat cerita ini begitu nyaman untuk dibaca! Bahkan bagi yang bukan pembaca Andrea Hirata sekalipun.
Novel ini sangat rekomendasi bagi siapa saja yang ingin belajar maupun mengajar. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil, tentang kesungguhan, kesabaran, kejelian, ketekunan, dan pengorbanan. Intinya, mengagumkan!
———
20/06/20

Komentar
Posting Komentar