Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Teman Berjuang

Pada suatu waktu, kau termenung memandangi deretan kertas yang tertempel rapi di salah satu sudut dinding kamarmu. Bukan kertas biasa. Padanya, mimpi-mimpimu kau abadikan dalam goresan tinta berwarna-warni—merah muda, biru dan jingga menjadi pilihan warna kesukaanmu—berikut rencana dan target-terget yang telah kau perhitungkan dalam kadar yang sesuai dengan kemampuanmu. Tidak lupa pula kau sertakan kalimat-kalimat motivasi sebagai penguat langkahmu untuk mencapai mimpi-mimpi yang berharga itu.  Kau berusaha membuatnya secantik mungkin, menghiasnya dengan origami berbentuk hati agar tidak membosankan ketika dipandangi. Belum cukup dengan origami, kau tambahkan lagi stiker berbentuk karakter-karakter lucu yang kau sukai.  Sudut kamarmu yang hampa berubah penuh warna. Kau senang memandanginya dan kau bersemangat untuk mewujudkan mimpi-mimpi indahmu yang terukir disana. Tapi, sesuatu dalam dirimu kemudian mengkhianatimu tanpa kau duga-duga; kemalasan itu datang tanpa aba-aba....

Tulisan Sampah

Suatu kali, Genta pernah bertanya kepadaku. "Selain aku, ada kah lagi orang yang kau percaya untuk membaca tulisanmu, Naya?" Aku mencoba mengingat-ingat kepada siapa saja pernah ku tunjukkan tulisan-tulisanku. Tentu Genta bukan satu-satunya orang yang menjadi 'kepercayaanku'. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sejauh ini, dialah yang paling lama bertahan menyandang predikat itu. "Ada. Dulu, aku selalu meminta teman-temanku untuk membacanya. Dan setelahnya mereka akan menghujaniku dengan banyak pujian." Aku masih mengingatnya, ternyata. Tulisan-tulisan sampah yang dulu ku pamerkan dengan penuh rasa percaya diri untuk dibaca oleh teman-temanku. Tidak peduli seberapapun jeleknya, mereka akan tetap menyanjungnya dengan kalimat-kalimat yang membuaiku hingga ke langit. Tapi, semakin lama, aku semakin muak mendengarnya. "Kenapa? Kau tidak suka dipuji?" "Kurasa di dunia ini tidak ada yang tidak suka dipuji.  Itu manusiawi, kan? Tapi, ada saat ketika kau ...

Pelabuhan Hati

Aku benci melihat perempuan menangis. Terlebih perempuan itu adalah Dhira, sahabatku. Terlebih lagi, alasannya menangis adalah karena seorang laki-laki. Walaupun aku juga laki-laki, tapi aku sungguh mengutuk perbuatan tidak terpuji semacam ini. Untuk apa susah-susah ku buat Dhira tertawa, kalau laki-laki lain dengan mudahnya membuat Dhira menangis? Cuih!  "Lupakan dia. Apa susahnya?" "Kau tidak mengerti, Angga!" Hujan di pelupuk matanya mulai mereda ketika aku mencoba mengajaknya berbicara. Dia benar. Walau kami sudah berteman sejak masih bocah ingusan, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa mengerti dirinya sepenuhnya. Ralat, lebih tepatnya perasaannya.  Dulu, ketika masih bocah, Dhira jarang menangis. Ia bahkan tidak menangis meski terjatuh saat memanjat pohon jambu bersamaku. Padahal lututnya mengucurkan cairan merah yang pasti sakit saat dirasa. Tapi, Dhira bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Malahan, aku yang saat itu menangis dimarahi ibunya...

Bukan Tulisan Biasa

Sebelumnya, kupikir menulis itu adalah pekerjaan otak. Memilih diksi, merangkai kalimat, menghubungkan setiap paragraf, menyelaraskan urutan setiap kejadian hingga menjadi satu kesatuan yang bermakna, bukankah semua itu perlu proses yang diatur dalam alam pikir? Kalaupun ada hal lain yang ikut berperan, kurasa jawabannya adalah perasaan. Kita pasti pernah membaca sebuah tulisan yang tidak hanya mengagumkan secara pemikiran, tapi juga menyentuh hingga ke perasaan. Tidak selalu menggunakan diksi yang puitis, hanya kata-kata sederhana yang diramu dengan cara yang luar biasa. Alurnya mungkin klise , tapi diceritakan dengan apiknya dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah tulisan yang kiranya mampu menggerakan pembaca untuk melakukan nilai-nilai kebaikan yang disematkan di dalamnya. Perpaduan yang manis dari hasil olah pikiran dan perasaan, keduanya bisa disalurkan lewat tulisan. Namun, mengandalkan kedua hal itu saja ternyata tidaklah cukup. Perkara menulis ternyata lebih luas dari itu. Tid...