Warnamu
Genta membalik tiap halaman yang sudah selesai ia baca dengan tenang. Bola matanya bergerak dari kiri ke kanan secara teratur mengikuti barisan huruf yang berjajar rapi membentuk satu kesatuan tulisan. Tulisanku.
Aku diam memandanginya, menunggunya selesai membaca. Sesekali ku hisap miltie buble-ku yang cup nya telah basah oleh butiran-butiran air hasil pencairan es. Cuaca yang hujan di luar sana tidak sama sekali menghalangiku untuk memesan minuman favoritku ini. Berbeda dengan Genta yang—biasanya memesan miltie buble bersamaku—kali ini memesan segelas cappuchino hangat. Permukaan gelasnya menampilkan uap-uap tipis yang terangkat naik lalu bergerak menyebar secara acak. Aku khawatir minumannya keburu dingin sebelum sempat ia habiskan.
"Hhh..."
Helaan nafasnya terdengar. Bersamaan dengan tangannya yang menutup buku bersampul cokelat tua—yang sejak tadi menjadi fokus utamanya—dan menggesernya di atas meja, ke arah ku. Di bagian depan buku tersebut tertulis namaku, Kanaya Nabila.
"Bagaimana?" Aku bertanya ingin tahu, tanpa sadar mengerjap-ngerjapkan mataku hingga membuatnya meloloskan sebuah tawa kecil.
"Pertama, biarkan aku menikmati minumanku dulu." Genta menyesap segelas cappuchino miliknya—yang bisa ku pastikan tidak sehangat saat pertama kali disajikan—sambil memandang lurus ke arah jendela besar di sampingnya, yang menjadi pembatas Cafe ini dengan dunia luar. Bukan memadangi jendela tentu saja. Tapi pemandangan yang ada dibaliknya.
Aku meniru arah pandangnya dan sempat dibuat terkesan tentang bagaimana jalan perempatan yang selalu ramai dan disesaki pengguna jalan ini bisa menjadi tampak lenggang dan sunyi. Hanya beberapa pejalan kaki dengan payungnya dan beberapa pengendara motor dengan jas hujannya saja yang terlihat wara-wiri. Ah, pasti karena hujan.
"Kau suka hujan kan, Naya?"
Aku terkesiap, menarik pandanganku kembali dan mendapati Genta sedang memandangku entah sejak kapan.
Aku hanya mengangkat kedua alis sebagai jawaban, seakan mengatakan 'kau sudah tahu jawabannya tanpa perlu bertanya'.
"Bagian mana dari hujan yang kau suka?" Genta kembali bertanya.
Ah, kalau ini sih pertanyaan mudah. "Suaranya, tetesannya, aromanya, desir anginnya, kurasa aku hampir menyukai semuanya." Aku menjawab tanpa perlu berpikir.
Genta mengangguk-angguk kecil, "Bagaimana dengan pelangi?" dan pertanyaannya selanjutnya berhasil membuat kedua alisku menyergit.
"Pelangi?"
"Iya. Pelangi yang mucul setelah hujan."
Aku memberi sedikit jeda sebelum mengutarakan jawabanku. "Aku jarang melihatnya karena ia hanya muncul sesekali atau bahkan tidak muncul sama sekali. Tapi kurasa aku mungkin menyukainya karena keindahannya."
Kali ini, tidak ada anggukan seperti yang dilakukan oleh Genta sebelumnya. Jawabanku sepertinya terdengar kurang meyakinkan untuknya.
"Well.. Setidaknya kau tahu kan, pelangi terlihat indah karena apa?"
"Karena warnanya."
"Karena warnanya yang berbeda-beda." Genta menambahkan jawabanku, lalu tersenyum penuh arti. "Apa jadinya jika pelangi hanya terdiri dari satu warna yang sama, Naya?"
"Tidak akan terlihat indah."
"Benar. Warna-warna itu tidak bisa berdiri sendiri. Mereka perlu bersatu untuk menciptakan sebuah keindahan yang nyata. Begitupun kita, manusia."
Aku mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Genta dengan seksama sambil menebak-nebak tentang apa yang sedang berusaha ia sampaikan kepadaku melalui pembicaraan warna-warna pelangi ini.
"Manusia dilahirkan berbeda-beda dan perbedaan tersebut adalah berkah yang patut kita syukuri. Perbedaan itulah yang menjadikan kehidupan ini terasa lebih indah untuk dijalani. Kita memiliki warna masing-masing. Bayangkan bagaimana jadinya kalau kita semua terjebak dalam satu warna yang sama? Tidak ada keindahan. Hidup akan menjadi monoton dan membosankan."
Aku masih setia pada keterdiamanku. Tidak ada alasan untuk menyela. Juga, aku senang mendengarkan Genta berbicara. Tentang apapun. Dan kali ini, ia berbicara tentang pelangi. Tapi, aku masih belum bisa menebak arah bicaranya.
Aku baru menemukan titik terang ketika Genta memanjangkan tangan kanannya dan mengetuk-ngetuk buku bersampul cokelat milikku dengan jari telunjuknya. "Di sini, aku menemukan banyak warna—" ada jeda sebentar ketika Genta menarik kembali tangannya. "—tapi tak ku temukan satupun warna mu, Naya."
Aku mencoba mencerna kalimatnya. Merangkai kalimat-kalimat Genta sebelumnya, lalu mengurutkannya menjadi semacam jalinan. Dimulai dari hujan, pelangi, keindahan, perbedaan, hingga buku bersampul cokelat yang di dalamnya terdapat banyak tulisan-tulisanku.
Ku rasa aku sudah mulai mengerti, tapi beberapa hal terasa masih mengganjal dan wajahku menunjukkannya secara jelas hingga ku yakini Genta bisa membacanya karena setelahnya ia kembali berbicara.
"Ku rasa kau terlalu banyak menyerap warna dari orang lain sehingga warnamu sendiri hampir tenggelam, melebur bersama warna-warna yang berbeda itu. Atau mungkin, kau berusaha mengubah warnamu?" Genta menunggu respon ku, tapi tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku, jadi ia kembali melanjutkan kalimatnya. "Yang ingin ku sampaikan adalah, tidak apa-apa menyerap warna dari orang lain, tapi jangan sampai kehilangan warnamu sendiri. Di beberapa bagian dalam tulisanmu, tampak tidak berwarna seperti dirimu."
Setiap kali aku membuat sebuah tulisan, aku tidak pernah lupa meminta Genta untuk membacanya. Laki-laki ini, tidak berusaha menyampaikan sesuatu yang membuatku senang, tapi ia menunjukkan apa yang tidak bisa ku lihat dari sudut pandangku. Mungkin karena terlalu sering, ia jadi bisa membedakan ketika aku sedang menjadi diriku sendiri dan ketika aku berusaha menjadi sesuatu yang bukan diriku. Dia tahu hanya lewat membaca tulisanku.
Apa ini semacam bakat alami yang dimilikinya? Aku ingin menyampaikan rasa terima kasih dan kekagumanku, tapi yang keluar dari mulut ku malah...
"Mau ku traktir segelas cappuchino lagi?"
Genta tampak terkejut sebelum akhirnya tertawa. Sepertinya ia tidak menduga tawaranku yang tiba-tiba. "Kau tahu, aku mulai berpikir sepertinya minuman ini—" Genta mengangkat gelas cappuchinonya "—bukan warna ku."
Aku tersenyum, langsung mengerti apa keinginannya. Seperti dia yang bisa mengenali warna ku, ku rasa aku juga bisa mengenali warnanya.
Aku beranjak untuk memesan satu miltie bubble untuk Genta. Di luar masih hujan, namun rinainya tidak sederas tadi. Ku harap ketika hujan berhenti, aku bisa melihat pelangi. Dan, menemukan lagi warnaku yang sempat lenyap sebelum tidak bisa ku raih kembali.
Terima kasih, Genta...
Kerennn ,,
BalasHapusWahhhh mantap
BalasHapus