Pelabuhan Hati


Aku benci melihat perempuan menangis. Terlebih perempuan itu adalah Dhira, sahabatku. Terlebih lagi, alasannya menangis adalah karena seorang laki-laki. Walaupun aku juga laki-laki, tapi aku sungguh mengutuk perbuatan tidak terpuji semacam ini. Untuk apa susah-susah ku buat Dhira tertawa, kalau laki-laki lain dengan mudahnya membuat Dhira menangis? Cuih! 

"Lupakan dia. Apa susahnya?"

"Kau tidak mengerti, Angga!"

Hujan di pelupuk matanya mulai mereda ketika aku mencoba mengajaknya berbicara. Dia benar. Walau kami sudah berteman sejak masih bocah ingusan, tapi sampai sekarang aku masih belum bisa mengerti dirinya sepenuhnya. Ralat, lebih tepatnya perasaannya. 

Dulu, ketika masih bocah, Dhira jarang menangis. Ia bahkan tidak menangis meski terjatuh saat memanjat pohon jambu bersamaku. Padahal lututnya mengucurkan cairan merah yang pasti sakit saat dirasa. Tapi, Dhira bersikap biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Malahan, aku yang saat itu menangis dimarahi ibunya karena telah mengajak Dhira melakukan sesuatu yang berbahaya—yang tidak seharusnya dilakukan anak perempuan. 

Semenjak kejadian itu, aku sudah tidak pernah mengajak Dhira memanjat pohon meski dia memintanya berulang kali. Alasannya tentu saja karena aku takut dimarahi ibunya lagi. 

Sebagai gantinya, aku menemaninya bermain boneka setiap sore di teras rumahnya. Dhira menyukai Stitch, makhluk biru jelek yang tampak menyeramkan di mataku. Anehnya, Dhira malah mengangap bonekanya itu imut dan lucu. 

Suatu kali, aku pernah mencoba menyembunyikan Stitch. Berharap Dhira melupakan boneka jeleknya itu namun nyatanya ia malah mati-matian mencarinya. Aku akhirnya mengembalikannya karena tidak tega melihatnya berlinangan air mata. 

Itulah kali pertama aku melihat Dhira menangis. Dan, itu semua karena perbuatanku, karena aku telah mengambil sesuatu yang penting baginya. Lantas, sesuatu yang penting apa yang diambil oleh laki-laki tak bertanggung jawab itu hingga membuat Dhira menangis kali ini?

"Ku kira dia berbeda. Ternyata sama saja."

"Apanya yang sama?"

"Laki-laki. Semuanya pembohong. Dia bilang aku satu-satunya. Tapi ternyata hanya salah satu. Bodohnya, aku percaya."

"Kau tahu, kau tidak bisa menjustifikasi keseluruhan hanya berdasarkan satu orang, Dhira. Kau tak sadar mengatakan ini pada laki-laki, ya?"

"Aku sadar. Aku mengatakannya karena kau adalah pengecualian."

"Pengecualian?"

"Kau sahabatku. Kau tidak akan membohongi ku, kan?"

Dia menatapku, menuntut jawaban. Aku teringat kembali pada insiden Stitch yang ku sembunyikan. Sampai sekarang dia masih berpikir kalau aku yang menemukannya. Dia tidak tahu saja kalau sebenarnya aku yang telah menyembunyikannya dengan sengaja. Apa itu termasuk berbohong? 

"Tentu saja. Aku tidak akan menbohongimu."

Dhira tersenyum. Pipinya masih basah, tapi dari bibirnya yang melengkung sempurna itu, dia seakan menunjukkan kalau dia baik-baik saja. 

"Traktir aku es krim, ya!"

---

Dhira pulih lebih cepat dari yang aku kira. Ia banyak tersenyum, dan mudah dibuat tertawa seperti biasa. Tangisnya tempo hari seakan tidak pernah ada. Ia sempurna melupa, dan aku tidak ingin mengembalikan ingatan pahitnya. 

Kami menjalani hari seperti biasa. Membagi canda dan cerita. Terkadang juga saling melempar keluh, lalu saling membalasnya dengan dukungan penuh. Aku ingin kebersamaan ini bertahan lama. Tapi rupanya semesta punya rencana berbeda. 

Dhira akan menikah minggu depan. Terkesan mendadak memang, tapi sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. 

Dhira menceritakan banyak hal kepadaku, termasuk tentang Dirga, laki-laki yang—siapa sangka—menjadi calon suaminya. Aku mengenalnya karena kami pernah berada dalam satu organisasi yang sama, dan sejauh yang ku tahu, dia laki-laki yang baik. Setidaknya, lebih baik dari laki-laki yang membuat Dhira menangis tempo hari. 

Dirga adalah alasan dibalik senyum Dhira yang tampak lebih purna bekalangan ini. Seperti pekangi yang muncul setelah hujan. Menceritakan tentang Dirga seakan menjadi kesenangan barunya. Sedangkan aku, diam-diam menahan sesak di dada. 

"Kau harus tampil tampan, Angga! Apa perlu aku carikan salon?"

"Tidak usah berlebihan. Tanpa ke salon pun aku sudah tampan."

"Ah, tapi aku ingin kau jadi lebih tampan dihari pernikahanku."

"Harusnya kau katakan itu kepada calon suamimu, dasar!"

Aku menyentil keningnya. Ia menggerutu, lalu tanpa aba-aba memberiku pertanyaan yang belum siap untuk ku dengar. 

"Kapan kau akan menyusulku?"

"Menyusul apa?"

"Ah, kau ini suka pura-pura tidak mengerti, ya? Menikah, Angga. Atau paling tidak, menemukan perempuan yang akan kau jadikan pelabuhan terakhirmu."

"Kurasa aku sudah menemukannya."

"Benarkah? Siapa? Kenapa tidak memberitahuku? Kau sengaja menyembunyikannya?"

Dhira menghujani ku dengan berbagai pertanyaan. Dia tidak akan berhenti sebelum aku menjawabnya. Sementara aku tidak yakin mengatakannya atau tidak. Satu hal yang kutahu, jawabannya ada di depan mataku. 

"Aku terlambat. Pelabuhannya sudah disinggahi kapal lain." Aku menjawabnya dengan kalimat yang tidak begitu kentara. Berharap Dhira tidak menyadari ada yang tersembunyi dari balik ucapanku dan beruntunglah ia tidak menemukannya. 

"Ah benarkah? Sayang sekali." Wajahnya terlihat sedih, lalu sekejap berikutnya ia tersenyum menyemangati. "Tidak apa-apa. Pelabuhan lain masih menunggu. Kau hanya perlu menemukan satu yang tepat untukmu."

Aku tersenyum, namun tidak berusaha menyembunyikan kegetiran dari senyumku. "Aku akan melakukannya."

Senyum Dhira semakin melebar. Melihatnya tersenyum karena aku, sudah cukup membuatku merasa bahagia. Tentu saja aku harus bahagia. Untuk Dhira, sahabatku yang diam-diam telah ku labuhkan hati kepadanya.  

Tanpa sadar, aku sudah melanggar janjiku, janji untuk tidak membohonginya. Nyatanya, aku tidak hanya membohonginya tapi juga diriku sendiri. 

Tapi, seperti yang ku katakan,  sudah terlambat. Sekarang, seperti yang Dhira katakan, waktunya memutar balik nahkoda dan menemukan pelabuhan hati yang lain. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri Manusiawi

Merayakan Perpisahan

Pentol Kuah