Merayakan Perpisahan
"Kita sudahi saja, ya." Perempuan itu berkata pelan, seakan tidak yakin pada perkataannya sendiri. Ia menunduk dalam, tidak berani bersitatap dengan sepasang mata meneduhkan milik seorang laki-laki dihadapannya. Jari-jari tangannya bertaut, saling meremas cemas dari balik meja kayu yang menjadi pembentang jarak diantara mereka.
Hening. Malam semakin larut, dua cangkir cokelat panas yang mereka pesan sudah mendingin diterpa angin malam sebelum sempat dihabiskan. Keadaan Kafe yang semakin sepi turut berkonspirasi menambah sunyi yang sama sekali tidak disukai. Diantara keheningan yang mencekam itu, hanya ada gerak jarum jam yang terdengar beraturan---tidak seperti detak jantung perempuan itu yang sudah tidak karuan.
Helaan nafas terdengar di menit kesekian sejak keterdiaman yang panjang. Bukan berasal dari si perempuan, tapi dari si laki-laki yang tampaknya sudah tidak tahan ditikam sunyi. Ia memandang sekali lagi perempuan yang masih betah menunduk itu dengan segenap perasaan yang bercampur aduk, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada jendela transparan disampingnya yang menampilkan pemandangan lampu-lampu jalanan dan beberapa pengguna jalan yang masih beraktifitas.
"Aku tahu cepat atau lambat kamu akan mengatakannya, jadi aku sudah mempersiapkan diri sejak lama. Tapi, mendengar perkataan itu langsung darimu, rasanya seperti semua persiapanku menjadi tidak berguna. Memangnya, siapa yang akan siap menghadapi perpisahan. Benar begitu kan, Arumi?"
Entah bagaimana cara laki-laki itu mengontrol nada suaranya hingga terdengar begitu tenang, padahal ia sama tidak karuannya dengan perempuan yang dipanggilnya Arumi itu. Kalau saja waktu bisa diputar 60 menit lebih awal, ia tidak akan mengiyakan permintaan Arumi untuk bertemu di Kafe perempatan jalan yang biasa mereka singgahi setiap kamis sore. Ah, benar juga. Ini masih rabu, bahkan jarum panjang pada jam di atas dinding itu belum melewati angka dua belas. Tidak bisakah Arumi bersabar dan menunggu hingga besok sore?
Sayangnya, laki-laki itu tidak pernah mampu menolak permintaan perempuan yang disayanginya. Bahkan ketika perempuan itu datang dengan meminta sebuah perpisahan kepadanya, ia tetap tidak bisa menolaknya.
"Ah, kesannya menyedihkan sekali ya kalau dinamai perpisahan." Laki-laki itu itu kembali berujar. Pikirannya sedang menimbang-nimbang sesuatu untuk dikatakan. Khawatir, jika apa yang keluar dari mulutnya akan menggoreskan luka di hati Arumi. "Perpisahan selalu identik dengan sebuah akhir yang bersamanya akan selalu ada kehilangan. Tetapi, Arumi, tidak akan ada yang hilang dari kita. Karena sejak awal, kita tidak pernah benar-benar saling memiliki."
Dan apa yang laki-laki itu khawatirkan benar terjadi. Arumi tidak bisa menolak sesak yang tiba-tiba menghinggapi rongga dadanya. Matanya dengan cepat digenangi cairan yang tertumpuk dipelupuk. Tidak, dia sudah bertekad untuk tidak menangis. Arumi tahu, air mata yang ia keluarkan tidak hanya akan menyakitinya tetapi juga laki-laki itu.
Arumi benci mengakuinya, tapi perkataan laki-laki itu memang benar adanya. Diam-diam selama ini mereka berdua ternyata memikirkan hal yang sama. Hanya saja, seperti kata-kata laki-laki itu, siapa yang akan siap menghadapi perpisahanan? Tetapi, menunda-nundanya akan semakin menyakitkan, sementara bertahan malah menambah ketidaktenangan.
"Kris—"
"Ah, disaat-saat begini aku malah mengoceh tidak jelas. Maaf ya, Arumi."
Laki-laki yang dipanggil Arumi dengan sebutan Kris itu tertawa pelan. Terdengar sumbang, tidak seperti tawanya yang biasanya. Ia hanya belum siap mendengar kata-kata Arumi yang sering kali mengejutkannya itu.
Arumi memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Beruntung kala itu Kris sedang menatap kearah lain sehingga manik mereka tidak perlu bertemu dan saling menggoyahkan satu sama lain.
"Kalau ada yang harus meminta maaf maka orang itu adalah aku." Arumi diam sejenak, memberi jeda untuk dirinya sendiri. Ternyata bukan hanya Kris yang tidak siap, Arumi juga merasa demikian. "Seperti katamu, sejak awal, kita memang tidak pernah benar-benar saling memiliki. Tapi, meski kita sama-sama tahu, tidak ada yang berani mengakhirinya lebih dulu. Ku pikir, mengatakannya sekarang atau menundanya nanti, rasanya akan sama-sama menyakitkan. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti menundanya.
"Hari-hari yang ku lalui bersamamu tidak ada yang tidak menyenangkan, Kris. Terima kasih, kehadiranmu membawa cerah ditengah mendungku. Tapi, dibalik semua itu, ada resah yang diam-diam menyelinap dan perasaan bersalah yang kian hari kian bertambah. Aku berusaha mencari pembenaran-pembenaran agar bisa lebih lama bertahan, tapi semakin dicari semakin aku menyadari bahwa jawaban satu-satunya dari pencarianku adalah perpisahan. Aku selalu mengulur waktu karena tidak ingin menyakitimu, Kris. Seperti katamu, tidak ada yang akan siap dengan perpisahan. Tapi—"
"Ada banyak sekali 'tapi' dalam kalimatmu, Arumi." Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arumi, Kris berani memotong perkataannya. Selama ini, ia begitu menghargai Arumi dan semua hal tentangnya. Lebih dari itu, Kris menyayangi perempuan ini. "Aku senang melihat Arumi yang pendiam bisa berbicara banyak seperti ini. Namun untuk hal yang satu ini, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu panjang lebar menjelaskannya karena aku memahami maksudmu dengan baik."
Sejak awal, ketika ia memutuskan untuk menjatuhkan hati kepada Arumi, Kris telah dihadapkan pada sebuah konsekuensi. Baginya, mencintai Arumi adalah jalan menuju patah hati yang paling indah untuk dilalui. Dan Kris mengambil resiko itu dengan mempertaruhkan perasaannya sendiri. Melupakan sebentar kenyataan bahwa mereka tidak sama. Mereka berbeda. Perbedaan keduanya terlalu nyata untuk disamarkan, terlalu krusial untuk diabaikan. Arumi dengan hijab panjangnya dan Kris dengan kalung salib yang menggantung di lehernya. Keduanya ditakdirkan jatuh cinta, namun tidak untuk saling membersamai satu sama lain.
Kris memusatkan kembali pandangannya pada perempuan yang kini mentapnya itu. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku, Arumi. Selama kamu bahagia, maka tidak ada alasan bagiku untuk merasa tersakiti. Karena itu, kamu harus menjaga hatimu baik-baik,. Setidaknya, sampai kamu menemukan seorang laki-laki yang kiranya dapat kamu percayai untuk menitipkan hati." Dan laki-laki itu bukan aku.
Kris tersenyum, ia tidak ingin membuat perpisahan ini menjadi sesuatu yang menyedihkan. Kris baru merasa sedikit lega ketika maniknnya menangkap garis bibir Arumi tertarik membentuk lengkung tipis.
"Kamu laki-laki yang baik, Kris. Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Ku harap kamu bertemu dengan seseorang perempuan yang tidak akan menyia-nyiakan kebaikan mu. Dan menggenapi separuh bagian dirimu." Dan perempuan itu bukan aku.
Arumi balas tersenyum, berharap Kris dapat menangkap ketulusan dibalik perkataan dan senyumnya. Tapi—
"Kebaikanku tidak gratis, Arumi."
—Kris malah mengeluarkan kalimat yang tidak Arumi duga sebelumnya.
"Kamu harus membayar kebaikanku selama ini." Kris tersenyum jahil melihat wajah bingung Arumi. "Ku baca dari internet, cokelat dapat memperbaiki suasana hati. Jadi—" Kris mengangkat cangkir cokelatnya yang sudah tidak panas lagi. "—ayo memesan satu gelas lagi. Untuk yang terakhir ini, kamu yang traktir."
Akhirnya, mereka kembali memesan. Seperti permintaan Kris, Arumi yang mentraktirnya untuk terakhir kali. Mereka merayakan perpisahan dengan dua cangkir cokelat panas dan sepotong percakapan ringan penutup malam.
Keduanya saling berjanji untuk berbahagia dijalan yang berbeda.
Hening. Malam semakin larut, dua cangkir cokelat panas yang mereka pesan sudah mendingin diterpa angin malam sebelum sempat dihabiskan. Keadaan Kafe yang semakin sepi turut berkonspirasi menambah sunyi yang sama sekali tidak disukai. Diantara keheningan yang mencekam itu, hanya ada gerak jarum jam yang terdengar beraturan---tidak seperti detak jantung perempuan itu yang sudah tidak karuan.
Helaan nafas terdengar di menit kesekian sejak keterdiaman yang panjang. Bukan berasal dari si perempuan, tapi dari si laki-laki yang tampaknya sudah tidak tahan ditikam sunyi. Ia memandang sekali lagi perempuan yang masih betah menunduk itu dengan segenap perasaan yang bercampur aduk, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada jendela transparan disampingnya yang menampilkan pemandangan lampu-lampu jalanan dan beberapa pengguna jalan yang masih beraktifitas.
"Aku tahu cepat atau lambat kamu akan mengatakannya, jadi aku sudah mempersiapkan diri sejak lama. Tapi, mendengar perkataan itu langsung darimu, rasanya seperti semua persiapanku menjadi tidak berguna. Memangnya, siapa yang akan siap menghadapi perpisahan. Benar begitu kan, Arumi?"
Entah bagaimana cara laki-laki itu mengontrol nada suaranya hingga terdengar begitu tenang, padahal ia sama tidak karuannya dengan perempuan yang dipanggilnya Arumi itu. Kalau saja waktu bisa diputar 60 menit lebih awal, ia tidak akan mengiyakan permintaan Arumi untuk bertemu di Kafe perempatan jalan yang biasa mereka singgahi setiap kamis sore. Ah, benar juga. Ini masih rabu, bahkan jarum panjang pada jam di atas dinding itu belum melewati angka dua belas. Tidak bisakah Arumi bersabar dan menunggu hingga besok sore?
Sayangnya, laki-laki itu tidak pernah mampu menolak permintaan perempuan yang disayanginya. Bahkan ketika perempuan itu datang dengan meminta sebuah perpisahan kepadanya, ia tetap tidak bisa menolaknya.
"Ah, kesannya menyedihkan sekali ya kalau dinamai perpisahan." Laki-laki itu itu kembali berujar. Pikirannya sedang menimbang-nimbang sesuatu untuk dikatakan. Khawatir, jika apa yang keluar dari mulutnya akan menggoreskan luka di hati Arumi. "Perpisahan selalu identik dengan sebuah akhir yang bersamanya akan selalu ada kehilangan. Tetapi, Arumi, tidak akan ada yang hilang dari kita. Karena sejak awal, kita tidak pernah benar-benar saling memiliki."
Dan apa yang laki-laki itu khawatirkan benar terjadi. Arumi tidak bisa menolak sesak yang tiba-tiba menghinggapi rongga dadanya. Matanya dengan cepat digenangi cairan yang tertumpuk dipelupuk. Tidak, dia sudah bertekad untuk tidak menangis. Arumi tahu, air mata yang ia keluarkan tidak hanya akan menyakitinya tetapi juga laki-laki itu.
Arumi benci mengakuinya, tapi perkataan laki-laki itu memang benar adanya. Diam-diam selama ini mereka berdua ternyata memikirkan hal yang sama. Hanya saja, seperti kata-kata laki-laki itu, siapa yang akan siap menghadapi perpisahanan? Tetapi, menunda-nundanya akan semakin menyakitkan, sementara bertahan malah menambah ketidaktenangan.
"Kris—"
"Ah, disaat-saat begini aku malah mengoceh tidak jelas. Maaf ya, Arumi."
Laki-laki yang dipanggil Arumi dengan sebutan Kris itu tertawa pelan. Terdengar sumbang, tidak seperti tawanya yang biasanya. Ia hanya belum siap mendengar kata-kata Arumi yang sering kali mengejutkannya itu.
Arumi memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. Beruntung kala itu Kris sedang menatap kearah lain sehingga manik mereka tidak perlu bertemu dan saling menggoyahkan satu sama lain.
"Kalau ada yang harus meminta maaf maka orang itu adalah aku." Arumi diam sejenak, memberi jeda untuk dirinya sendiri. Ternyata bukan hanya Kris yang tidak siap, Arumi juga merasa demikian. "Seperti katamu, sejak awal, kita memang tidak pernah benar-benar saling memiliki. Tapi, meski kita sama-sama tahu, tidak ada yang berani mengakhirinya lebih dulu. Ku pikir, mengatakannya sekarang atau menundanya nanti, rasanya akan sama-sama menyakitkan. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti menundanya.
"Hari-hari yang ku lalui bersamamu tidak ada yang tidak menyenangkan, Kris. Terima kasih, kehadiranmu membawa cerah ditengah mendungku. Tapi, dibalik semua itu, ada resah yang diam-diam menyelinap dan perasaan bersalah yang kian hari kian bertambah. Aku berusaha mencari pembenaran-pembenaran agar bisa lebih lama bertahan, tapi semakin dicari semakin aku menyadari bahwa jawaban satu-satunya dari pencarianku adalah perpisahan. Aku selalu mengulur waktu karena tidak ingin menyakitimu, Kris. Seperti katamu, tidak ada yang akan siap dengan perpisahan. Tapi—"
"Ada banyak sekali 'tapi' dalam kalimatmu, Arumi." Untuk pertama kalinya sejak mengenal Arumi, Kris berani memotong perkataannya. Selama ini, ia begitu menghargai Arumi dan semua hal tentangnya. Lebih dari itu, Kris menyayangi perempuan ini. "Aku senang melihat Arumi yang pendiam bisa berbicara banyak seperti ini. Namun untuk hal yang satu ini, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu panjang lebar menjelaskannya karena aku memahami maksudmu dengan baik."
Sejak awal, ketika ia memutuskan untuk menjatuhkan hati kepada Arumi, Kris telah dihadapkan pada sebuah konsekuensi. Baginya, mencintai Arumi adalah jalan menuju patah hati yang paling indah untuk dilalui. Dan Kris mengambil resiko itu dengan mempertaruhkan perasaannya sendiri. Melupakan sebentar kenyataan bahwa mereka tidak sama. Mereka berbeda. Perbedaan keduanya terlalu nyata untuk disamarkan, terlalu krusial untuk diabaikan. Arumi dengan hijab panjangnya dan Kris dengan kalung salib yang menggantung di lehernya. Keduanya ditakdirkan jatuh cinta, namun tidak untuk saling membersamai satu sama lain.
Kris memusatkan kembali pandangannya pada perempuan yang kini mentapnya itu. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perasaanku, Arumi. Selama kamu bahagia, maka tidak ada alasan bagiku untuk merasa tersakiti. Karena itu, kamu harus menjaga hatimu baik-baik,. Setidaknya, sampai kamu menemukan seorang laki-laki yang kiranya dapat kamu percayai untuk menitipkan hati." Dan laki-laki itu bukan aku.
Kris tersenyum, ia tidak ingin membuat perpisahan ini menjadi sesuatu yang menyedihkan. Kris baru merasa sedikit lega ketika maniknnya menangkap garis bibir Arumi tertarik membentuk lengkung tipis.
"Kamu laki-laki yang baik, Kris. Terima kasih untuk semua kebaikanmu selama ini. Ku harap kamu bertemu dengan seseorang perempuan yang tidak akan menyia-nyiakan kebaikan mu. Dan menggenapi separuh bagian dirimu." Dan perempuan itu bukan aku.
Arumi balas tersenyum, berharap Kris dapat menangkap ketulusan dibalik perkataan dan senyumnya. Tapi—
"Kebaikanku tidak gratis, Arumi."
—Kris malah mengeluarkan kalimat yang tidak Arumi duga sebelumnya.
"Kamu harus membayar kebaikanku selama ini." Kris tersenyum jahil melihat wajah bingung Arumi. "Ku baca dari internet, cokelat dapat memperbaiki suasana hati. Jadi—" Kris mengangkat cangkir cokelatnya yang sudah tidak panas lagi. "—ayo memesan satu gelas lagi. Untuk yang terakhir ini, kamu yang traktir."
Akhirnya, mereka kembali memesan. Seperti permintaan Kris, Arumi yang mentraktirnya untuk terakhir kali. Mereka merayakan perpisahan dengan dua cangkir cokelat panas dan sepotong percakapan ringan penutup malam.
Keduanya saling berjanji untuk berbahagia dijalan yang berbeda.
Komentar
Posting Komentar