"Tapi kan, aku bukan lulusan pondok pesantren..."
Tidak terasa sudah berada dipenghujung semester empat. Padahal, rasanya baru kemarin memperkenalkan diri di kelas untuk pertama kali, menjawab pertanyaan tentang alasan kenapa memilih masuk jurusan ini, lalu diwanti-wanti untuk bertahan apapu rintangan yang menanti. Bahkan, masih hangat di ingatan perihal 'Cinta Palsu' yang terdengar ringan namun ternyata berat ketika dimaknai. Sebuah peringatan sunyi untuk berhati-hati. Berhati-hati dari apa? Awalnya memang tidak terlalu mengerti. Tapi seiring waktu jawabannya bisa ditemukan sendiri.
Tidak terasa semester lima sudah di depan mata. Ah, semester tadi saja rasanya sudah berat sekali, lalu bagaimana nasib semester depan nanti? Hmm, tidak tahu. Tapi, semakin tidak ingin dipikirkan malah semakin kepikiran. Sebentar lagi akan memasuki semester tua, tapi kemampuan masih begini-begini saja. Apa kata dunia???
Dulu, ada sebuah kalimat yang sering di—salah—gunakan untuk membela diri.
"Aku kan bukan lulusan pondok pesantren..."
Benar. Aku bukan lulusan pesantren. Jadi wajar-wajar saja jika pengetahuan Nahwu dan Shorof ku jauh dibawah teman-teman lain yang sudah memiliki basic bahasa Arab yang kuat dari belajar di pondok pesantren. Aku hanya lulusan Madrasah Aliyah. Jadi wajar-wajar saja jika kemampuan kalam ku tidak selancar teman-teman lain yang sudah terbiasa menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari ketika berbicara di lingkungan pondok pesantren.
Belum lagi aspek lainnya, hafalan kitab misalnya. Jika teman-teman yang lain sudah terbiasa berteman dengan kitab bahkan menghafalnya, aku baru sampai pada tahap penjajakan. Seumur-umur, tidak pernah sekalipun membaca kitab lain selain kitab Al-Qur'an. Apalagi tidak ada barisnya. Owalah, panas dingin sudah kalau disuruh membacanya! Dan masih banyak aspek lain yang tidak bisa semua disebutkan. Ah, bahkan membandingkannya saja tidak akan sanggup. Bagai langit dan bumi. Jauh sekali!
Teman-teman dari pesantren yang membaca ini mungkin akan menganggapnya berlebihan (karena pada dasarnya mereka memang rendah hati). Tapi, ini memang benar terjadi! Teman-teman yang bukan dari lulusan pondok pasti pernah memiliki pemikiran seperti ini. Aku, apalagi! Sebelum memutuskan mendaftar kuliah di jurusan bahasa Arab pun, pemikiran seperti ini sudah terlebih dahulu menghantui. Sampai harus mencari kontak kakak tingkat yang sudah terlebih dahulu menceburkan diri di jurusan ini untuk ditanya-tanyai.
"Tidak apa-apa, tidak sulit kok. Kamu pasti bisa..." kira-kira begitu katanya. Tapi itu hanya kalimat awal. Karena berikutnya akan ada tambahan "...asal ada kemauan dan usaha."
Benar. Kemauan dan usaha. Sayangnya terkadang, kemauan tidak berbanding lurus dengan usaha yang dikeluarkan. Akhirnya, kembali berlindung di balik kalimat, "Tapi kan, aku bukan lulusan pondok pesantren..."
Pemikiran yang salah, aku tahu. Tapi memberi pemakluman berkali-kali kepada diri sendiri sepertinya jauh lebih mudah daripada harus memulainya dari awal kembali.
Ketika di kelas, terutama untuk matkul-matkul yang berkaitan dengan bahasa Arab, teman-teman dari pondok selalu diunggulkan untuk tampil paling depan. Kami yang bukan lulusan pondok seakan sadar diri dengan kemampuan dan cukup puas berperan sebagai tim hore yang menyemangati dengan pujian dan tepuk tangan. Tentu kami merasa bangga pada mereka, secara tidak langsung kami juga banyak belajar dari mereka. Lalu, diam-diam menyimpan keinginan untuk bisa seperti mereka.
Ah, kalau untuk menyamai, rasanya tidak akan pernah sama. Lagi-lagi, latar belakang pendidikan menjadi pertimbangannya. Tapi, setidaknya, memulai berusaha untuk bisa lebih baik dari diri yang sebelumnya layak dicoba. Ya, sebelum orang lain, yang pertama kali harus dilampaui adalah diri sendiri, bukan?
Ketika pertama kali menemui dosen pembimbing dulu, kami yang bukan dari lulusan pondok pesantren diberi sepatah dua patah nasehat yang intinya agar tidak minder dengan kemampuan diri. Latar belakang pendidikan memang berbeda, tapi jangan dijadikan sebagai dinding pembatas yang akhirnya menghambat diri untuk bisa berkembang.
Mereka, teman-teman lulusan pondok pesantren sama seperti kita yang bukan lulusan pondok pesantren dalam hal masuk ke jurusan ini dengan niat belajar. Hanya saja, dalam beberapa hal, mereka tahu lebih dulu. Tapi, bukankah itu menjadi kesempatan yang bagus untuk menambah ilmu?
Seringkali rasa segan menjadi penghalang untuk berteman. Padahal kalau soal ilmu, mereka akan dengan senang hati berbagi. Bahkan tidak keberatan sering ditanya-tanyai. Bukan hanya ilmu, terkadang mereka juga menyalurkan semangat ke dalam diri. Memulai seorang diri mungkin susah, tapi kalau ada teman, rasa susahnya menjadi tidak terlalu kentara, kan? Memiliki teman berjuang itu menyenangkan!
Ah, rupanya kalimat "Tapi kan, aku bukan lulusan pondok pesantren." Hanyalah bentuk suudzon yang tak berdasar. Suudzon kepada diri sendiri karena telah meragukan kemampuan yang dimiliki dan suudzon kepada orang lain yang dianggap lebih tinggi.
Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubahnya sendiri? Lalu sampai kapan betah berdiam diri?
19/06/20
πΌπΌπΌ
Note:
Tulisan pertama setelah sekian lama. Ini ditulis untuk diri sendiri, berdasarkan pengalaman yang telah dilalui. Jadi maklumi kalau isinya macam curahan hati. Wkwkw
Oh ya, foto yang disertakan bersama tulisan ini diambil ketika semster tiga, tepatnya menjelang akhir pembelajaran program unggalan UPB UIN Antasari. Semua yang berpose disana adalah lulusan pondok pesantren atau pernah belajar di pondok, tapi ada satu yang bukan. Bisa tebak yang mana?π

Wahhh, perwakilan semua isi hati saya wkwka
BalasHapusHaloo teman seperjuangankuu wkwkwk
Hapus