Tulisan Sampah

Suatu kali, Genta pernah bertanya kepadaku.

"Selain aku, ada kah lagi orang yang kau percaya untuk membaca tulisanmu, Naya?"

Aku mencoba mengingat-ingat kepada siapa saja pernah ku tunjukkan tulisan-tulisanku. Tentu Genta bukan satu-satunya orang yang menjadi 'kepercayaanku'. Namun tak bisa dipungkiri bahwa sejauh ini, dialah yang paling lama bertahan menyandang predikat itu.

"Ada. Dulu, aku selalu meminta teman-temanku untuk membacanya. Dan setelahnya mereka akan menghujaniku dengan banyak pujian."

Aku masih mengingatnya, ternyata. Tulisan-tulisan sampah yang dulu ku pamerkan dengan penuh rasa percaya diri untuk dibaca oleh teman-temanku. Tidak peduli seberapapun jeleknya, mereka akan tetap menyanjungnya dengan kalimat-kalimat yang membuaiku hingga ke langit. Tapi, semakin lama, aku semakin muak mendengarnya.

"Kenapa? Kau tidak suka dipuji?"

"Kurasa di dunia ini tidak ada yang tidak suka dipuji.  Itu manusiawi, kan? Tapi, ada saat ketika kau merasa pujian itu tidak layak kau terima."

"Karena akhirnya kau sadar bahwa dirimu ternyata tidak seistimewa apa yang mereka elu-elukan?"

"Tepat sekali."

Genta mengatakan persis seperti seperti apa yang kupikirkan selama ini. Menerima pujian memang menyenangkan. Tapi kalau kenyataan tidak seperti apa yang digaungkan, bukankah itu malah menjadi sebuah pembohongan?

"Lalu, kenapa kau menunjukkan tulisanmu kepadaku?"

"Karena kau jarang memberiku pujian."

"Kau tahu aku tidak pandai melakukannya, kan?"

"Karena itulah aku suka."

Genta tiba-tiba tersenyum, senyumnya terlihat aneh, seperti sedang menggoda? Kedua alisnya dia naik turunkan dengan menyebalkan.

"Kau tanpa sadar telah mengatakan perasaanmu."

"Perasaanku?"

"Aku tahu sejak lama bahwa kau menyukaiku."

"Hey, bukan begitu maksudku!"

Genta tertawa, puas sekali. Aku mencak-mencak dibuatnya, sama sekali tidak menyadari perkataanku yang ambigu telah memberinya celah untuk menggodaku.

"Kalau tidak benar, tidak usah kesal." Ucap Genta diujung tawanya, sepertinya dia menyadari perubahan ekspresiku. Dan karena ucapannya barusan, aku harus mengganti wajah kesalku dengan senyum ceria yang pura-pura.

"Sudah selesai tertawanya?"

"Sudah."

"Baguslah, karena aku punya sesuatu untuk kau baca." 

Aku menggeser buku bersampul cokelat tua milikku ke hadapannya. Di sana, sebuah tulisan baru saja ku selesaikan. Dan seperti biasa, Genta akan menjadi orang pertama yang ku persilakan untuk membacanya. 

Tapi, tanpa diduga-duga, dia malah menggeser kembali buku itu ke hadapanku. Membuatku menatapnya dengan kedua alis berkerut, bingung.

"Aku sudah banyak membaca tulisanmu yang sekarang, Naya." Ia berkata, tidak lupa memberi jeda pada perkataanya. "Tapi, tidak pernah sekalipun aku membaca tulisanmu yang dulu. Kalau kau masih menyimpannya, bolehkah aku membacanya?"

Genta mengajukan permintaan secara tiba-tiba. Ah, tulisan-tulisanku yang dulu, tentu aku masih menyimpannya. Tapi, untuk menunjukkannya kepada Genta, kurasa aku tidak bisa.

"Untuk apa? Itu hanya tulisan sampah."

"Tulisan-tulisan yang kau anggap sampah itulah yang menghantarkanmu pada tulisan emasmu, Naya." Genta tersenyum, tidak lagi tampak menyebalkan seperti saat menggodaku. Senyumnya kali ini lebih tulus. "Lagipula, tidak masalah memiliki ratusan tulisan sampah untuk mendapatkan satu tulisan emas. Bukankah semua itu tentang proses? Bahkan yang dianggap terburuk pun, kalau terus dipoles akan menjadi indah pada akhirnya."

Tulisan-tulisan sampah yang ku remehkan, tidak ku sangka Genta akan memandangnya berlainan. Aku membenci tulisan lamaku yang ku anggap tidak layak, bahkan membenci pujian yang ku terima atas ketidaklayakan yang ku tulis sendiri. Rasa benci hampir membuatku lupa menghargai; menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain yang dengan tulus memuji. Kalau bukan karena tamparan dari perkataan Genta, aku mungkin akan selamanya lupa, bahwa tulisan-tulisan sampah itu adalah bagian dari diriku, keping-kepingny menyempurnakan kisah hidupku.

Ah, Genta lagi-lagi menyadarkanku. 

"Kurasa kau tidak akan menyukainya."

"Tenang saja, Naya. Meski suka pun, aku tetap tidak akan memujinya."

Perkataannya memicu tawa kecilku keluar. Tadinya, aku tidak ingin menujukkannya, tapi sekarang, aku jadi ingin cepat-cepat mencarinya. Tulisan-tulisan sampahku yang berharga.


🌼

Komentar

  1. Mau jadi sosok genta dong wkwkaka

    BalasHapus
  2. Mending jadi tulisan lama yang sudah menjadi sumpah itu er #katanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri Manusiawi

Merayakan Perpisahan

Pentol Kuah