Bukan Tulisan Biasa

Sebelumnya, kupikir menulis itu adalah pekerjaan otak. Memilih diksi, merangkai kalimat, menghubungkan setiap paragraf, menyelaraskan urutan setiap kejadian hingga menjadi satu kesatuan yang bermakna, bukankah semua itu perlu proses yang diatur dalam alam pikir? Kalaupun ada hal lain yang ikut berperan, kurasa jawabannya adalah perasaan.

Kita pasti pernah membaca sebuah tulisan yang tidak hanya mengagumkan secara pemikiran, tapi juga menyentuh hingga ke perasaan. Tidak selalu menggunakan diksi yang puitis, hanya kata-kata sederhana yang diramu dengan cara yang luar biasa. Alurnya mungkin klise, tapi diceritakan dengan apiknya dari sudut pandang yang berbeda. Sebuah tulisan yang kiranya mampu menggerakan pembaca untuk melakukan nilai-nilai kebaikan yang disematkan di dalamnya. Perpaduan yang manis dari hasil olah pikiran dan perasaan, keduanya bisa disalurkan lewat tulisan.

Namun, mengandalkan kedua hal itu saja ternyata tidaklah cukup. Perkara menulis ternyata lebih luas dari itu. Tidak hanya melibatkan pikiran dan perasaan, tapi ruh secara keseluruhan.

Ya, menulis adalah pekerjaan ruh. Apa yang kita baca dalam tulisan seseorang, sedikit banyaknya akan menggambarkan bagaimana ruh si penulis. Itulah mengapa ketika kita banyak membaca tulisan seseorang meskipun belum pernah bertemu secara langsung, kemudian bertemu untuk pertama kali, kita seperti bisa merasakan kedekatan dengan orang tersebut. Kenapa? Karena kita sudah sering berinteraksi dengan ruhnya.

Kuatnya ruh seorang penulis akan mempengaruhi tulisan yang dibuatnya. Sebagai contoh, novel Laskar Pelangi. Apa yang menyebabkan novel tersebut bisa menyampaikan pesan dengan sangat kuat hingga membekas pada pembacanya? Jawabannya sederhana saja. Penulisnya merasakan sendiri betapa sulitnya perjuangan mengenyam pendidikan di Belitong. Bahkan pada mulanya Laskar Pelangi tidak niatkan menjadi sebuah novel, tapi hadiah untuk  gurunya yang telah berjasa besar untuk membuat muridnya di SD Muhammadiyah menjadi orang-orang yang berpengetahuan. Meskipun gaji yang ia terima tidak sebanding dengan jasanya. 

Lewat hal-hal semacam inilah yang akhirnya membuat ruh-ruh penulis bisa menghasilkan karya-karya yang hebat. Oleh karena itu, ketika ingin menghasilkan sebuah tulisan yang baik dan diharapkan bisa memberi manfaat (meski tidak seberapa besar), maka kondisikanlah ruh kita dalam kualitas yang baik. Hal ini sudah terlebih dahulu dicontohkan ulama besar islam seperti Imam al-Bukhari. Dikisahkan bahwa setiap kali akan menulis sebuah hadits, Beliau mandi dan melakukan sholat sunnah (istikharah) dua rakaat. Beliau mampu menghasilkan karya-karya luar biasa yang tak tergerus masa karena dalam proses penulisannya tidak hanya mengandalkan kecerdasan semata, tetapi juga selalu melibatkan Allah Subhanahu Wata'ala.

Lalu, bagaimana jika kita belum memiliki kualitas ruh yang baik? Kalaupun kita belum memilikinya, maka kita bisa berusaha dengan cara meningkatkan kualitas amalan dan memperbaiki serta menjaga hubungan kita dengan Allah. Karena kunci awal sebuah tulisan adalah lurusnya niat, bersihnya hati, dan baiknya kualitas ruh.



Semoga selalu Allah permudah.



🌼🌼🌼


Disadur dari podcast Farah Qoonita, "Menulis, Usaha Memanjangkan Usia"


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri Manusiawi

Merayakan Perpisahan

Pentol Kuah