Rumit

Kau rupanya masih sama. Keras kepala dan tidak mau mengalah. Aku pun rupanya masih sama. Tidak suka diperintah, tidak mau kalah. Mungkin, kesamaan ini lah yang akhirnya membentang jarak di antara kita. Kau bersikukuh dengan keinginanmu; untuk pergi. Dan aku mencoba bertahan dengan pilihanku; untuk tinggal dan menunggu.

"Semuanya sudah berakhir," katamu. Tanpa kalimat tambahan yang menjelaskan apa dan mengapa.

Kau pikir, aku bisa membaca semuanya lewat tatapan itu. Namun, kau salah. Aku tidak pernah mampu menyelami kedalaman matamu. Aku akan tenggelam lebih dulu sebelum berhasil sampai ke tepian. Nafasku tercekat,  aku sekarat. Usaha apapun yang kulakukan untuk menyelamatkan diri hanya berujung sia-sia.

"Maaf karena telah melibatkanmu dalam kerumitan pikiranku," kau berkata dengan tulus.

Permintaan maafmu itu, aku tidak memerlukannya. Barangkali kau lupa. Dulu, kau lah yang memintaku untuk tidak memahamimu. Kau saja tidak bisa mengerti dirimu dengan baik, lalu bagaimana bisa mengharapkan orang lain melakukannya? Terlalu naif, pikirmu. Tapi, aku yang juga keras kepala ini melakukannya tanpa sepengetahuanmu. Meski tidak bisa sepenuhnya mengerti, aku berusaha membuat diriku selalu ada kapanpun kau memerlukan teman berbagi cerita. Sampai hari dimana kau memutuskan untuk pergi, aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.

Memahamimu ternyata tidak sesederhana apa yang ada dipikiranku. Sama seperti ketika aku berusaha menyelamatkan diri dari kedalaman matamu, usahaku sia-sia.

"Jangan menungguku, aku tidak akan berbalik—bahkan menoleh kearahmu."

Kau melangkah pasti meninggalkanku yang tertinggal jauh dibelakang. Tenang saja, aku tidak akan mengejarmu untuk menanyakan alasan kepergianmu. Seperti permintaanmu terdahulu, aku tidak akan berusaha memahami mu—lagi. Maka sebuah alasan tidak lagi penting untukku. Pergilah sejauh yang kau mau. Kepergianmu tidak akan mengubah apa-apa. Kecuali, sepotong hati yang turut serta kau bawa. Hatiku.

Kau tahu, ternyata bukan hanya pikiranmu saja yang rumit. Perasaanku juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri Manusiawi

Merayakan Perpisahan

Pentol Kuah