Janji Kunang-Kunang
Kulihat kau begitu tampan malam itu. Sebelah tanganmu menggenggam erat tangan kecil ku sementara tanganmu yang lain membelai lembut surai hitam sepunggungku. Kau tersenyum lembut menatapku. Senyum yang menyimpan makna dibaliknya. Tetapi, kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti isyaratmu.
"Ayah harus pergi." Katamu, masih dengan senyum yang sama.
"Kemana?" Aku bertanya penasaran.
Kita belum lama berjalan-jalan di taman yang indah ini dan aku masih belum ingin melepaskan genggaman tanganmu. Kita bahkan belum menemukan kunang-kunang yang kita cari. Kau tidak akan pergi dan membiarkanku mencari kunang-kunang sendirian, kan?
"Ayah akan ke surga." Kita berhenti melangkah, entah sudah sejauh mana dari rumah. Bulan bersinar sangat terang malam ini. Namun bagiku, wajahmu terlihat lebih purna dari bulan diatas sana.
"Aku ikut!" Aku berseru antusias. Ah, tidak apa-apa jika tidak bisa menemukan kunang-kunang. Pergi ke surga denganmu sepertinya lebih mengasyikkan. Disana pasti banyak mainan. Tiba-tiba saja aku menjadi bersemangat untuk menjelajahi surga dan melupakan tujuan awal kita.
"Tidak bisa." Katamu.
Aku merengut, hendak merajuk. Namun lagi-lagi kau menunjukkan senyum yang membuatku kehilangan kalimat untuk menyuarakan rasa protes ku. Genggaman tangan kita terlepas, kedua tanganmu beralih memegang pundakku. Kau sampai harus berjongkok untuk menyamakan tinggi kita. Matamu menelisik manik hitamku, entah apa yang sedang kau cari. Sedang aku tak pernah bisa membaca kedalaman tatapanmu.
"Putri ayah harus tetap disini bersama ibu dan kakak. Nanti kalau ayah kembali, ayah akan bawakan mainan yang banyak. Tapi selama ayah pergi kamu harus berjanji menjadi putri yang baik. Bagaimana, princess?"
Rasa kesalku hilang berganti senang. Mendengar kata mainan disebut, hati mana yang tidak tergoda? Aku tersenyum lebar sebelum akhirnya menghambur ke dalam pelukanmu. Kehangatan dan rasa aman memenuhi ku, membuatku ingin selamanya berada dalam pelukan ini. Tapi, seperti katamu, kau harus segera pergi.
"Kunang-kunang!" Perhatianku teralihkan pada sekumpulan serangga terbang berkelap-kelip yang entah datang dari sudut mana. Mereka seakan menari-nari disekelilingku. Lihatlah, ayah. Kita berhasil menemukan apa yang kita cari. Perjalanan yang kita tempuh tidak sia-sia. Lihatlah, ayah. Ingin sekali kutunjukkan kunang-kunang yang cantik ini kepadamu. Namun sosok mu sudah tak bisa lagi ku temukan.
Ah, ayah. Aku belum sempat mengatakan kalau sebenarnya aku tidak butuh mainan. Apa yang ku miliki di rumah sudah sangat cukup untuk ku mainkan setiap hari. Karena itu, aku tidak menginginkannya lagi. Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah kau kembali. Namun, sejak hari itu kau tak pernah datang. Kunang-kunang memberitahuku bahwa kau bahagia di tempatmu yang sekarang. Surga pasti menyenangkan, ya? Aku ingin menyusulmu, Ayah. Namun aku masih memiliki janji untuk ditepati.
"Ayah harus pergi." Katamu, masih dengan senyum yang sama.
"Kemana?" Aku bertanya penasaran.
Kita belum lama berjalan-jalan di taman yang indah ini dan aku masih belum ingin melepaskan genggaman tanganmu. Kita bahkan belum menemukan kunang-kunang yang kita cari. Kau tidak akan pergi dan membiarkanku mencari kunang-kunang sendirian, kan?
"Ayah akan ke surga." Kita berhenti melangkah, entah sudah sejauh mana dari rumah. Bulan bersinar sangat terang malam ini. Namun bagiku, wajahmu terlihat lebih purna dari bulan diatas sana.
"Aku ikut!" Aku berseru antusias. Ah, tidak apa-apa jika tidak bisa menemukan kunang-kunang. Pergi ke surga denganmu sepertinya lebih mengasyikkan. Disana pasti banyak mainan. Tiba-tiba saja aku menjadi bersemangat untuk menjelajahi surga dan melupakan tujuan awal kita.
"Tidak bisa." Katamu.
Aku merengut, hendak merajuk. Namun lagi-lagi kau menunjukkan senyum yang membuatku kehilangan kalimat untuk menyuarakan rasa protes ku. Genggaman tangan kita terlepas, kedua tanganmu beralih memegang pundakku. Kau sampai harus berjongkok untuk menyamakan tinggi kita. Matamu menelisik manik hitamku, entah apa yang sedang kau cari. Sedang aku tak pernah bisa membaca kedalaman tatapanmu.
"Putri ayah harus tetap disini bersama ibu dan kakak. Nanti kalau ayah kembali, ayah akan bawakan mainan yang banyak. Tapi selama ayah pergi kamu harus berjanji menjadi putri yang baik. Bagaimana, princess?"
Rasa kesalku hilang berganti senang. Mendengar kata mainan disebut, hati mana yang tidak tergoda? Aku tersenyum lebar sebelum akhirnya menghambur ke dalam pelukanmu. Kehangatan dan rasa aman memenuhi ku, membuatku ingin selamanya berada dalam pelukan ini. Tapi, seperti katamu, kau harus segera pergi.
"Kunang-kunang!" Perhatianku teralihkan pada sekumpulan serangga terbang berkelap-kelip yang entah datang dari sudut mana. Mereka seakan menari-nari disekelilingku. Lihatlah, ayah. Kita berhasil menemukan apa yang kita cari. Perjalanan yang kita tempuh tidak sia-sia. Lihatlah, ayah. Ingin sekali kutunjukkan kunang-kunang yang cantik ini kepadamu. Namun sosok mu sudah tak bisa lagi ku temukan.
Ah, ayah. Aku belum sempat mengatakan kalau sebenarnya aku tidak butuh mainan. Apa yang ku miliki di rumah sudah sangat cukup untuk ku mainkan setiap hari. Karena itu, aku tidak menginginkannya lagi. Satu-satunya hal yang kuinginkan adalah kau kembali. Namun, sejak hari itu kau tak pernah datang. Kunang-kunang memberitahuku bahwa kau bahagia di tempatmu yang sekarang. Surga pasti menyenangkan, ya? Aku ingin menyusulmu, Ayah. Namun aku masih memiliki janji untuk ditepati.
Komentar
Posting Komentar