Kita tanpa 'KITA'
Tadinya ku kira, punggung yang sedang berdiri membelakangi ku itu adalah punggungmu. Habisnya dari belakang terlihat mirip sekali. Entah penglihatanku yang keliru atau pikiranku yang sedang kelu. Atau mungkin, karena cuaca yang tiba-tiba berubah sendu? Hmm.. Tidak tahu. Yang jelas bukan karena rindu.
Hari-hari yang terlewati setelah percakapan terakhir kita, aku sudah berhenti menghitungnya. Aku bahkan lupa sudah berapa lama kita tak saling bertatap muka. Pun pesan-pesan lama kita, sudah ku hapus semua. Namamu kini sudah tak lagi menempati ruang utama di bilik hatiku. Hanya saja, pikiranku sesekali iseng memanggil ingatan tentangmu. Seperti kali ini.
Aku jadi teringat pada perkataan sebuah hadits,
"Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Mungkin suatu hari nanti, kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya. Mungkin suatu hari kamu akan mencintainya."
Barangkali, kesalahan terbesar kita adalah terlalu larut dalam euforia rasa. Tanpa pernah memusingkan, bahwa sekuat apapun rasa, ia akan pudar pada akhirnya. Hanya satu hal yang bisa membuatnya bertahan lama. Ikatan rasa yang dibangun atas dasar kecintaan karena-Nya. Dan ku kira, kita belum memiliki satu hal itu.
Aku tidak membencimu, sungguh. Hanya merasa lucu saja. Kita yang dulunya saling berpegangan erat seakan takut kehilangan satu sama lain, kini dengan suka rela melepas pegangan itu dan membiarkannya menjadi dua bagian yang terpisah.
Ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan nyatanya tak berlasan. Pegangan itu, tak lebihnya seperti belenggu yang mengikat erat, membuat sesak rongga pernafasan, menyempitkan ruang pergerakan . Melepaskannya boleh jadi pilihan terbaik. Ah, mungkin juga pilihan satu-satunya. Sebelum aku dan kamu menjadi lebih tersakiti oleh sebuah keyakinan untuk tetap bertahan. Keyakinan semu yang akhirnya akan mencelakakan kita tanpa pernah kita sadari.
Nyatanya, kamu bisa baik-baik saja tanpa aku. Begitupun aku yang bisa baik-baik saja tanpa kamu.
Kita tidak pernah mengira jika ternyata, kita akan baik-baik saja tanpa 'kita'.
Hari-hari yang terlewati setelah percakapan terakhir kita, aku sudah berhenti menghitungnya. Aku bahkan lupa sudah berapa lama kita tak saling bertatap muka. Pun pesan-pesan lama kita, sudah ku hapus semua. Namamu kini sudah tak lagi menempati ruang utama di bilik hatiku. Hanya saja, pikiranku sesekali iseng memanggil ingatan tentangmu. Seperti kali ini.
Aku jadi teringat pada perkataan sebuah hadits,
"Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Mungkin suatu hari nanti, kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya. Mungkin suatu hari kamu akan mencintainya."
Barangkali, kesalahan terbesar kita adalah terlalu larut dalam euforia rasa. Tanpa pernah memusingkan, bahwa sekuat apapun rasa, ia akan pudar pada akhirnya. Hanya satu hal yang bisa membuatnya bertahan lama. Ikatan rasa yang dibangun atas dasar kecintaan karena-Nya. Dan ku kira, kita belum memiliki satu hal itu.
Aku tidak membencimu, sungguh. Hanya merasa lucu saja. Kita yang dulunya saling berpegangan erat seakan takut kehilangan satu sama lain, kini dengan suka rela melepas pegangan itu dan membiarkannya menjadi dua bagian yang terpisah.
Ketakutan-ketakutan yang kita ciptakan nyatanya tak berlasan. Pegangan itu, tak lebihnya seperti belenggu yang mengikat erat, membuat sesak rongga pernafasan, menyempitkan ruang pergerakan . Melepaskannya boleh jadi pilihan terbaik. Ah, mungkin juga pilihan satu-satunya. Sebelum aku dan kamu menjadi lebih tersakiti oleh sebuah keyakinan untuk tetap bertahan. Keyakinan semu yang akhirnya akan mencelakakan kita tanpa pernah kita sadari.
Nyatanya, kamu bisa baik-baik saja tanpa aku. Begitupun aku yang bisa baik-baik saja tanpa kamu.
Kita tidak pernah mengira jika ternyata, kita akan baik-baik saja tanpa 'kita'.
Komentar
Posting Komentar