Rotasi
Tidak seperti biasanya, wajah Naya tampak begitu muram hari ini. Entah kemana perginya senyum yang biasa terpatri di wajah manisnya itu. Ia tidak bersemangat meski Genta mentraktir cheese burger kesukaannya. Bahkan ketika Genta bertanya, Naya hanya menjawab sekenanya.
"Aku baik-baik saja."
Genta tahu betul itu adalah kalimat yang sering digunakan kaum hawa untuk menutupi keadaan mereka yang sebenarnya. Apa Naya pikir Genta se-tidak-peka itu hingga tidak menyadarinya?
"Langit hari ini mendung, sama sepertimu. Anginnya dingin, sama juga sepertimu. Adakah cuaca yang sendu ini mempengaruhimu, atau kau yang telah mempengaruhinya, Naya?"
Genta menunggu Naya yang masih betah dalam keterdiamannya tanpa berusaha mendesaknya untuk bercerita. Meski Genta sendiri penasaran, ia tetap tidak ingin membuat Naya menjadi merasa tidak nyaman.
"Tidak ada yang mempengaruhi, cuaca memang akan terus berganti. Langit tidak selalu biru, sesekali akan hadir mendung yang merubah warnanya menjadi abu-abu. Mendungpun juga tidak selamanya bertahan pada keabu-abuannya. Terkadang ia berlalu pergi terbawa angin entah menuju sudut langit yang mana, terkadang juga ia meleburkan diri bersama hujan yang jatuh entah di atas tanah yang mana. Semua itu terjadi secara alami. Sama halnya dengan kehidupan. Tidak ada bahagia yang bertahan selamanya, pun tidak ada sedih yang bertahan selamanya. Keduanya akan selalu berotasi pada poros takdirnya sendiri."
Tak perlu waktu lama bagi Genta menunggu Naya buka suara. Ia hanya tidak mengira bahwa kalimat sekompleks itu yang akan ia dengar dari Naya setelah keterdiamannya yang mengundang tanda tanya.
"Seseorang tidak seharusnya berlama-lama terlarut dalam kesedihan dan melupakan kebahagiaan padahal ia sedang dalam perjalanan menghampirinya. Meski gerakannya pelan dan perjalanannya panjang, ia tetap akan sampai pada waktu yang telah ditentukan. Bukan begitu, Genta?"
"Iya, Naya. Pada saatnya tiba, kebahagian itu akan sampai. Pun kesedihan tidak akan menetap selamanya."
Senyum yang tadi sempat hilang dari wajah Naya kembali terbit, menggantikan muram yang sebelumnya pernah ada. Bagai tidak terjadi apa-apa, ia menunjukkan wajah ceria.
"Kalau benar begitu, maka aku baik-baik saja."
Dengan santai Naya menggigit cheese burgernya yang sedari tadi belum tersentuh sama sekali. Tak ia hiraukan ekspresi bingung yang tercetak dengan jelas di wajah Genta atas perubahaan sikapnya yang sekejap mata. Apa perempuan memang seperti ini? Genta tidak mengerti.
Genta menahannya niatnya untuk bertanya perihal apa sebenarnya sedang Naya rasa. Ah, yang lebih penting sekarang adalah Naya menghabiskan burgernya dulu. Kalau perut sudah kenyang terisi, maka mulut akan dengan ringan bercerita tentang apa saja. Perempuan memang seperti itu, kan?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusDitunggu kisah selanjutnya ya.
BalasHapus