Cinta Palsu


Kenapa memilih masuk jurusan Bahasa Arab?"

Agaknya, kalimat semacam ini menjadi pertanyaan yang hampir tidak pernah terlewat untuk ditanyakan di awal perkuliahan. Siapapun dosennya, apapun mata kuliah yang diampunya. Mereka seakan bersepakat memasukkan pertanyaan yang satu ini sebagai penutup dari pertanyaan-pertanyaan lain yang sudah lumrah ditanyakan seperti nama, tempat dan tanggal lahir, asal daerah dan tempat tinggal, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.

Kalau boleh ku sebut, pertanyaan pamungkas.

Di semester berikutnya, ketika bertemu dosen baru dan mata kuliah yang baru, pertanyaan ini akan kembali diajukan. Memang tidak semua, tapi kebanyakan begitu. Pun di semester lusa tidak munutup kemungkinan kita akan kembali dihadapkan pada pertanyaan ini.

"Kenapa memilih masuk jurusan Bahasa Arab?"

Hmm… Kenapa, ya? Kok sepertinya dosen-dosen ini 'kepo' sekali dengan pilihan yang telah dibuat oleh mahasiswa/i barunya? Apa pentingnya sebuah alasan? Toh, kami sudah berada disini sekarang ini. Duduk manis mengikuti perkuliahan dengan status baru sebagai mahasiswa/i. Hari pertama, semangat jelas membara. Masa depan kami, dimulai langkahnya hari ini, di kampus, di jurusan ini.

Jurusan Pendidikan Bahasa Arab.

Keren sekali ya, kelihatannya. Mendengar kata 'Pendidikan Bahasa Arab' yang terbayang adalah kemampuan memahami dan menguasai bahasa Al-Qur'an. Oh, iya, jangan lupakan hal lain yang tak kalah keren. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi dengan Bahasa Arab.
Sekurang-kurangnya, itulah yang menjadi alasanku. Termasuk juga alasan sebagian besar teman-teman yang lain. Alasan-alasan kami ini pada akhirnya akan bermuara pada satu hal.
لأنّي أحب اللغة العربية
"Karena saya cinta Bahasa Arab."

Iya, cinta. Satu kalimat itu saja telah mencakup arti keseluruhan. Jadi, tidak usah lagi menjabarkannya panjang lebar. Cukup katakan 'karena saya cinta'. Itu saja sudah cukup untuk mewakili semua. Kedengarannya sederhana saja ya,  namun kenyataannya tidak begitu sederhana.

"Semoga cintanya bukan cinta palsu, ya."

Respon pertama ku kala mendengar kalimat ini adalah tertawa. Iya, aku tertawa. Begitu pula teman-teman yang lain. Laki-laki berpeci dan berkacamata minus yang duduk di depan kami memang tersenyum ketika mengatakannya. Mungkin itu yang menyebabkan kesalahpahaman. Peringatannya kami anggap sebagai bentuk lelucon. Aku baru menyadarinya tepat ketika laki-laki itu menutup sesi perkenalan di hari itu dan bersiap untuk meninggalkan kelas. Ia keluar dengan meninggalkan sebaris tanda tanya di kepala ku. Cinta palsu? Yang seperti apa?

Seiring waktu, aku mulai memahami. Berbicara soal cinta, ternyata tidak semudah mengucapkannya. Semua orang bisa mengaku cinta, tapi hanya sedikit yang bersedia membuktikannya. Pembuktian cinta adalah perbuatan. Akan ada banyak hal tidak menyenangkan yang akan ditemui dalam proses meraih apa yang dicinta. Terkhusus, dalam mencintai Bahasa Arab, seperti yang ku bahasa disini.

"Semoga cintanya bukan cinta palsu, ya."

Kalimat ini begitu membekas diingatanku, bahkan hingga hari ini, ketika tulisan ini ku buat. Pikiranku terus saja mengulang-ulangnya, setidaknya satu kali dalam seminggu. Seiring waktu, timbul perasaan malu. Betapa dulu aku dengan percaya diri mengatakan cinta. Namun, minim sekali usaha untuk membuktikan rasa cinta itu.

Sejak awal, disadari atau tidak, kami telah diwanti-wanti. Pertanyaan-pertannyaan tentang alasan memilih masuk jurusan Bahasa Arab itu bukan sekadar pertanyaan basa-basi yang diajukan tanpa maksud. Ada pesan tersirat bahwa, apapun alasan kami, jika telah menetapkan hati pada suatu pilihan, perjuangkanlah hingga akhir. Tidak peduli seberapa sulit dan melelahkannya. Terutama, yang mengaku cinta. Kemalasan, kesulitan, kelelahan, keluhan, dan hal-hal lain akan menurunkan semangat juang tidak boleh dijadikan penghalang apalagi sampai membuat langkah terhenti sebelum sampai ditempat tujuan. Semua itu adalah konsekuesi dari cinta yang mau tak mau harus dihapapi, bukan dihindari.

Sekali lagi, semoga bukan cinta palsu, ya…
.
.
.
(nasehat diri)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Iri Manusiawi

Merayakan Perpisahan

Pentol Kuah